Posts filed under ‘Religi’

Memaknai kehidupan dengan melakukan kebaikan untuk sesama

“Pemimpin  datang bukan untuk dilayani, tetapi untuk melayani”.

Ungkapan yang sederhana namun sarat makna tersebut sering kita dengar namun tidak mudah diwujudkan, mengapa? Pertama, sebagai manusia kita cenderung untuk lebih suka dilayani karena merasa nyaman, dan mampu menunjukkan derajat sosial dan eksistensi kita yang lebih tinggi dan mampu memuaskan ego kita. Kedua, sebagai manusia kita punya kecenderungan senang memperlakukan manusia lain sebagai bawahan dan merasa bangga dapat mengatur dan menguasai banyak orang. Sering secara tidak disadari kita terjebak dalam keangkuhan atau arogansi yang membuat kita menjadi lupa diri dan melupakan bahwa semua manusia sebenarnya sama derajatnya dihadapan Sang Pencipta.

Dijaman modern yang lebih mengagungkan materi/kekayaan, pangkat/jabatan, dan relasi dengan orang terkenal, kita seringkali mengalami dis-orientasi dalam memaknai kehidupan yang fana ini. Seolah-olah kekayaan, kemewahan, kenikmatan hidup, dan berbagai ragam kemudahan yang harus diperoleh  menjadi tujuan hidup kita yang hakiki, dan seringkali mengabaikan dan bahkan mematikan suara bening nurani kita yang membuat kemanusiaan kita sebenarnya mudah tersentuh untuk berbuat baik pada sesama.

Manusia dengan sifat kemanusiaannya sebenarnya punya kodrat sebagai mahluk sosial yang peduli pada sesamanya, namun pertarungan, persaingan dan kerasnya kehidupan seringkali membuat banyak orang menjadi lupa akan jati dirinya sebagai mahluk tertinggi ciptaanNYA yang mempunyai hati yang luas bagaikan samudera untuk menyayangi dan membantu sesamanya yang menderita. Maka hal penting yang harus kita lakukan adalah selalu merefleksi setiap hari apakah perbuatan dan tingkah laku kita telah benar-benar selaras denga kehendakNYA atau kita justru semakin melaksanakan perintahNYA dan menjauh laranganNYA.

Perbuatan baik di jaman modern menjadi barang yang mewah dan langka karena semakin banyak dari kita yang selalu berhitung menggunakan logika mengenai untung rugi dalam berbuat baik, padahal di hati yang terdalam kita sebenarnya sangat ingin melakukan perbuatan baik tersebut, namun sering terkendala dengan ketakutan akan disalah artikan, dianggap sok pahlawan, sok sosial dan takut akan keamanan dan kemapanan kehidupan yang belum kita raih.

Ajakan “dengan memberi akan mendapat” seharusnya menjadikan kita tak perlu takut lagi untuk berbuat baik karena Sang Pemberi Kebaikan selalu akan terus menjaga dan melindungi kita yang selalu percaya akan kekuatan KASIH dan dengan mengasihi sesama maka kita selalu memuliakan namaNYA dalam keseharian hidup kita. Tindakan sekecil apapun yang dilakukan atas nama KASIH bagi sesama yang membutuhkan bukanlah tindakan sia-sia, melainkan wujud cinta kita kepada Sang Kalik yang telah memberi napas kehidupan dan memberi kesempatan bagi kita untuk menghirup udara segar yang tersedia gratis bagi kita. Jika kita telah menyadari arti kebaikan dalam hidup, maka tidak ada lagi kekerasan dan tawuran atas nama SARA, tidak ada lagi keinginan menjadi tamak dan serakah akan harta melalui berbagai cara yang tidak beradab, tidak perlu ada lagi kegiatan yang tega untuk merusak bumi sebagai tempat tinggal kita, tidak perlu lagi ada penggusuran dan tindakan sewenang-wenang pada orang kecil yang lemah dan terpinggirkan, karena kita melihat sesama sebagai saudara yang perlu dikasihi. Keinginan untuk menjadi pemangsa bagi sesama, mengalahkan dan membinasakan sesama telah hilang dan digantikan sikap welas asih yang mengayomi, memberi tumpangan ketika tidak ada lagi tempat yang layak untuk tingggal bagi para tuna wisma, memberi makan ketika sesama kita lapar, menjenguk mereka yang sakit, memberi upah yang layak untuk hidup, memberi senyuman tulus dari hati yang terdalam, memberi solusi bagi yang membutuhkan pertolongan, mau mendengar ratapan, rintihan dan curhat rakyat yang lama menderita, mau berbagi ilmu dengan lainnya dan masih banyak amalan kasih yang dapat kita berikan kepada sesama kita yang membutuhkan. Seandainya semua orang beriman menerapkan keimanannya dengan penuh iklas dan kesadaran, dan menyadari kita semua bersaudara, maka ratapan anak-anak kurang gizi di desa-desa terpencil, perdagangan anak, menjadikan anak sebagai pekerja dll tidak akan terjadi lagi. Para pemimpin negeri ini menjadi lebih peka dan peduli pada penderitaan rakyat dan tidak terjebak dalam kemewahan yang tidak perlu yang diperoleh dengan melakukan korupsi, tidak perlu lagi para politisi untuk saling menjatuhkan satu dengan lainnya, tak perlu kebiasaan saling menyandera dan yang lebih penting bagaimana ideology kebangsaan PANCASILA sebagai pemersatu bangsa ini bisa diterapkan dalam kehidupan keseharian kita.

Iklan

Juni 26, 2012 at 9:55 pm Tinggalkan komentar

B S B : Berdoa Sambil Berkarya atau Berdoa Sambil Berdosa

Kehidupan bangsa kita sejak pemerintahan SBY semakin lama semakin  membingungkan kalau tidak dapat dikatakan semakin aneh.

Bagaimana tidak, bangsa yang dikenal ramah tamah ternyata berubah dengan cepat menjadi begitu beringas yang dapat terlihat dari peristiwa bentrokan antar ormas, antar kampung, antar mahasiswa, antar siswa, antar penegak hukum seperti kejaksaan dengan mahasiswa  yang demo di depan kantor mereka, pembakaran fasilitas publik, penggunaan senjata tajam berbagai jenis seperti panah beracun, bom molotov,parang, sangkur  dan gampangnya senjata api yang menyalak atau digunakan untuk menakut nakuti yang dilakukan oleh masyarakat sipil dll.

Bangsa yang dikenal religius dengan keberagaman agama, namun ternyata kriminalitas dan korupsi tetap tinggi dan bahkan semakin meningkat akhir-akhir ini,sementara disisi lain  kegiatan beribadah dan mimbar agama juga semakin marak. Perkosaan yang terjadi yang kadang disertai dengan  pembunuhan  terhadap perempuan di ibu kota yang dilakukan di transport/kendaraan  umum juga sangat mencengangkan karena dilakukan ditengah-tengah keramaian dan terlihat sebagian besar masyarakat terutama di perkotaan semakin egois tidak peduli  dan tidak mau berbagi dan solider dengan sesamanya. Kita dapat melihat masih adanya perkampungan kumuh dengan kualitas kehidupan yang tak layak namun tetap saja kondisinya dari tahun ke tahun tanpa ada perubahan sementara ajaran agama meminta umatnya untuk mau solider dan berbagi dengan yang membutuhkan. Yang lebih mengherankan ada  dinas layanan publik yang bertanggung jawab mengatasi masalah seperti dinas sosial namun gaung tindakannya hampir tak pernah terdengar.

Bangsa yang terkenal sangat toleran ternyata semakin lama yang terjadi adalah semakin  jauh dari rasa toleransi ketika ada ormas keagamaan yang dibiarkan melakukan tindakan anrkis dan membawa senjata tajam di muka umum dan bahkan sampai tega membunuh pihak yang tidak sesuai dengan ajaran yang dianutnya, juga mengobrak abrik tempat ibadahnya yang jelas jauh dari ajaran agama yang mengajarkan jalan damai dan menghargai adanya perbedaan. Pengusiran umat lainnya yang mau beribadah untuk menyembah Tuhan YME juga terjadi sementara perilaku korup , prostitusi kelas rendah sampai kelas tinggi dan kriminal yang sering memakan korban jiwa justru tidak pernah dipertanyakan dan diperangi.

Bangsa yang dikenal  santun, ternyata dimana mana justru bertebaran video porno produksi lokal dengan pemain lokal yang terdiri dari oknum pelajar SLTA, PNS,  Ibu rumah tangga, politisi, perangkat desa dan berbagai profesi lainnya. Bangsa ini semakin menjauh dari jati dirinya dengan peradaban sebelumnya yang dikenal santun, penuh senyum dan suka membantu sesamanya dengan sifat gotong royongnya. Bangsa yang santun ini telah berubah menjadi bangsa yang mengagungkan kesombongan karena memiliki materi yang berlebih dengan gaya hidup hedonis dan penuh kepura-puraan, menjadi arogan ketika memiliki jabatan publik dan suka sekali meremehkan rakyat kecil yang dilayaninya. Fenomena geng motor yang cenderung brutal juga menjadi PR bagi kita mengapa anak muda justru terjerumus pada tindakan yang tidak manusiawi , disamping itu yang memprihatinkan semakin banyak anak muda yang terjerat minuman alkohol dan narkoba.

Bangsa yang dikenal pencinta lingkungan  telah berubah menjadi bangsa yang rakus dan tamak menjual kekayaan alamnya dengan harga murah kepada pihak asing hanya untuk sekedar memperkaya diri dan memenuhi pundi-pundi kekayaannya melalui uang sogok  dengan mengorbankan masyarakat lokal termasuk anak cucunya  yang harus menderita dan menangung penderitaan yang hebat akibat kerusakan alam yang diakibatkan adanya eksploitasi hutan, tambang dan juga penanaman monokultur seperti sawit dst. Bangsa yang dikenal dengan aliran sungai yang jernih, air yang dapat langsung diminum karena airnya jernih dan sehat, lingkungan yang asri penuh pepohonan dan udara yang segar telah digantikan dengan sumber air besar yang dikuasai pemilik modal kuat untuk dijadikan bahan baku air mineral yang dijadikan usaha bisnis, sebagian lagi dijual ke pihak lain yang punya modal, dan membiarkan petani kebingungan karena tidak mendapat jatah air untuk usaha tani, ternak dll.

Bangsa yang terkenal dengan kejujurannya, telah dijungkirbalikan dengan membenarkan yang salah dan menyalahkan yang benar. Para koruptor tidak lagi merasa malu ketika melakukan meski telah kehilangan kejujurannya, para anak sekolah tidak lagi malu untuk mendapatkan jawaban ujian atau mencontek, para oknum pelayan publik terang-terangan meminta uang yang tidak lain merupakan bentuk KKN yang jelas telah melanggar sumpah jabatan dan ajaran agama yang diimaninya. Dimana-mana kejujuran menjadi barang mahal karena pemerintahan SBY hanya bisa beretorika belaka terhadap penumpasan korupsi, tidak pernah serius untuk menghargai kejujuran anak negeri dan bahkan membiarkan masyarakatnya semakin memuja hedonisme dan konsumerisme yang sebenarnya tidak kalah seram pengaruh kerusakannya dibanding pengaruh konser Lady Gaga yang paling lama hanya 2 jam saja. (lebih…)

Mei 25, 2012 at 8:10 am 1 komentar

Dengan berbagi dan memberi, hidup akan berkelimpahan ?

Tidak mudah hidup di kota dibanding di alam pedesaan, karena hidup dan tinggal di kota ternyata lebih komplek permasalahannya. Kehidupan sehari-hari begitu keras dan ganas  dan cenderung cuek, tak mau peduli pada sesama yang menderita dan membutuhkan pertolongan telah banyak mematikan suara hati nurani warganya. Kota yang semakin hari semakin maju secara kasat mata dengan berdirinya bangunan baru yang megah dan mewah seperti apartemen, hypermarket/mall, kondominium, perumahan mewah  dll yang   terus saja bertumbuh dan bertambah, ternyata juga menyisakan derita pilu warga kota di daerah kumuh dan bantaran sungai. Kota selain memberi harapan untuk hidup lebih baik, ternyata juga memerangkap banyak warga pendatang yang tak siap sehingga mereka terperosok dalam dunia hitam kelam yang tak berujung dan menumbuhkan gaya hidup yang jauh dari tuntunan iman berupa tindakan kriminal dan hedonisme seperti mngkonsumsi narkoba, minuman keras dll untuk melarikan diri dari dunia nyata.

Ajaran iman yang tak pernah usang.

Sebagai manusia yang beriman, pastilah kita telah berupaya untuk terus mempelajari ajaran agama sesuai iman yang diyakininya. Namun ditengah  kehidupan yang plural baik mengenai suku, agama, ras dll ternyata tidak mudah menerapkan hidup yang harmonis, rukun dan damai. Kekerasan yang terus saja  terjadi di berbagai daerah  atas nama perbedaan (agama,suku,asal dll), kekerasan yang dilakukan  oleh negara atas nama hukum (yang dianggap telah memenuhi rasa keadilan) dan juga kekerasan oleh pengusaha-pemodal kuat telah mampu memporak-porandakan kehidupan hamonis di bumi nusantara tercinta. Mimbar agama setiap pagi hampir ditayangkan di semua tv swasta untuk dapat dijadikan tuntunan hidup, ternyata hanya menjadi tontonan dan belum mampu terterap dalam kehidupan keseharian.

Manusia yang beragama ternyata tidak menjamin untuk hidup saleh, lurus dan jujur. Banyak yang rajin melakukan sembahyang namun tetap saja melakukan korupsi, melakukan kekerasan dan juga melakukan banyak kebohongan demi memperoleh kekayaan berlimpah meski tak halal. Padahal kita semua tahu, dan terus diajarkan berulang-ulang kepada umat beriman untuk tidak serakah dan mau berbagi dan memberi pada sesama yang membutuhkan. (lebih…)

Januari 8, 2012 at 1:02 am Tinggalkan komentar

Romo Francisco Tan SJ; mewujudkan iman,harapan dan kasih melalui PUSLAWITA

Ketika diminta untuk menuliskan pengalaman selama berkarya bersama Romo Tan SJ selama 4 tahun , terus terang secara pribadi saya agak mengalami kesulitan karena rentang waktu yang telah lama dan terbatasnya ingatan yang semakin uzur termakan usia sehingga dengan segala upaya dicoba untuk kembali memutar rekaman lama dan membongkar dokumen tertulis yang masih ada dan pasti semuanya tak mudah. Namun sebagai bentuk rasa hormat dan penghargaan kepada beliau dalam peringatan 1000 hari wafatnya beliau dan bagaimana beliau telah menunjukkan keteladanan dalam hal ke-iman-an dan ke-imam-annya, dengan segala keterbatasan dan subyektivitas yang saya miliki , perkenankan untuk mencoba menuangkannya meski pasti tidak akan mampu memotret pribadi ,pikiran dan filosofi hidup serta karya Romo Tan SJ secara utuh dan penuh.

Melestarikan alam, melestarikan kehidupan

Tanah atau lebih tepatnya lahan merupakan penopang kehidupan rakyat Timor Timur, maka masa depan sebagian besar rakyat sangat tergantung dari kemampuan mengelola, serta mendayagunakan lahan pemberian Tuhan secara bertanggung jawab.

Kenyataan diatas menggerakkan Serikat Yesus Proponsi Indonesia (waktu itu) khususnya Romo Francisco Tan SJ untuk merintis berdirinya Pusat Latihan Wiraswasta Tani (PUSLAWITA) sebuah Lembaga Sosial Gereja yang bergerak dibidang pelayanan pendidikan atau pelatihan petanian di Dusun Laulara, Desa Dare, Dili Barat.

Tujuan lembaga yang dirintis sejak 1986 dibawah naungan Yayasan Wiraswasta Tani ini adalah untuk mencintai dan mempelajari alam termasuk didalamnya hewan atau ternak, tanaman dan tanah agar mampu menghasilkan dan menghidupi manusia.

Puslawita ingin mengajak kaum muda Timor Timur untuk mencintai alam melalui tanah dan menekuni pertanian karena dengan mengelola secara baik dan bertanggung jawab alam pemberian Tuhan, sebenarnya ikut melestarikan kehidupan yakni menyediakan pangan yang cukup dan seimbang kandungan gizinya, menyediakan kebutuhan bahan bangunan, bahan mentah untuk industri ,mencegah terjadinya bencana banjir, kekeringan, maupun kelaparan dll.

Di Puslawita, para siswa didik lebih diarahkan ke pertanian oganik atau alami dengan memanfaatkan sumber daya alam setempat sehingga diharapkan dapat tercipta pertanian menetap yang berkelanjutan dengan menerapkan sistem pengawetan tanah dan air terutama di lahan yang berlereng.

Dengan demikian diharapkan dalam jangka panjang pertanian organik atau alami dapat lebih menjamin keseimbangan ekologis, budaya dan ekonomis sehingga mampu mewujudkan kehidupan yang lebih baik dan meninggalkan sistem lama berupa pertanian berpindah dan tebas bakar (slash and burn) menjadi pertanian yang menetap dan lestari .

Tanpa banyak bicara, dengan semangat dan kerja diharapkan alumnus Puslawita dapat membangkitkan minat pada kaum muda sedesa sehingga terbentuk paguyuban kelompok tani muda  yang maju  dan mandiri tanpa harus bergantung pada lapangan kerja di bidang lain.

Puslawita ingin membantu manusia dan alam Timor Timur  , dimana menurut data Umat Keuskupan Dili pada tahun 1989 berjumlah 580.674 orang  atau 64 persen penduduk di Timor Timur sebagian besar menggantungkan hidupnya dari hasil pertanian. Dan perkembangan Gereja Katolik  tidak terlepas dari cara budidaya dan peningkatan hasil pertanian yang merupakan sumber pendapatan sebagian besar umat Katolik.

Puslawita sebagai bagian karya sosial Gereja di Keuskupan Dili melihat pentingnya menyediakan lapangan kerja bagi kaum muda gereja serta mampu meningkatkan pendapatan umat dengan mengajak kaum muda melatih diri dalam usaha tani terpadu. Diharapkan kaum muda yang tertarik di pertanian bisa menunjukkan peningkatan kehidupan secara berarti melalui kekayaan/asset yang dimiliki berupa lahan. Setelah memperoleh ketrampilan di Puslawita, mereka diharapkan menjadi kader penggerak masyarakat yang berpijak pada pertanian.Pertanian yang merupakan  ladang kerja sebagian umat, menjadi salah satu solusi untuk pemecahan keterbelakangan umat akibat penjajahan berkepanjangan selama 450 tahun di bawah Portugis, serta dapat memberi lapangan kerja bagi kaum muda terdidik sehingga dapat mengurangi pengangguran yang semakin tinggi.

Puslawita sebagai pusat pengembangan kaum muda gereja

Tahun 1989 PUSLAWITA sebagai pusat pelatihan non formal di bidang pertanian mulai operasional dengan menerima peserta didik melalui seleksi dengan  persyaratan pemuda pemudi asal Timor Timur, ulet dan suka bertani, serta bersedia kembali ke desa sebagai petani.

Materi yang diberikan meliputi Pendidikan Agama dan Ajaran Sosial Gereja, Masalah sosial, Pembangunan pedesaan, Kepemimpinan dan Kewiraswastaan, Dasar-dasar pertanian, Peternakan, Teknologi tepat guna, Pengolahan hasil pertanian dan industri rumah tangga. (lebih…)

November 18, 2011 at 10:13 am Tinggalkan komentar

Mewujudkan PAROKI yang ramah anak, perlukah?

Hari Anak Nasional (HAN) baru saja selesai dirayakan secara nasional maupun di berbagai daerah. Tidak semua-pihak (multi stakeholder) memahami arti penting merayakan HAN. Bahkan pada beberapa anak yang ditanyakan kapan HAN diperingati, juga tidak semua anak akan mengetahuinya, maklum mungkin kurang sosialisasi dan juga kurang dipahami arti penting anak dalam kehidupan nyata. Gaung perayaan HAN telah dikalahkan dengan hiruk pikuk persoalan politik yang hampir menghabiskan ruang bagi perayaan HAN meski ada beberapa stasiun TV yang masih menyiarkannya, namun di tingkat kabupaten/kodya gaung maraknya perayaan anak kurang dirasakan.
Paroki sebagai pusat pertumbuhan anak
Paroki yang tidak lain merupakan wadah sekumpulan umat beriman dalam wilayah administrasi gereja Katolik yang berada dalam suatu keuskupan merupakan wadah yang strategis dalam mempersiapkan pemimpin masa depan bangsa yang kebetulan beragama Katolik. Penyiapan kerohanian yang bersifat sistematis ,strategis maupun taktis yang dilakukan sejak usia dini dapat membantu gereja maupun Bangsa Indonesia dalam memperoleh pemimpin yang beriman, bertaqwa, jujur, tegas dan adil dan membawa berkah bagi masyarakat luas. Penyiapan pemimpin masa depan sejak usia dini, bahkan sejak usia dalam kandungan ibu akan membentuk anak tidak saja hanya cerdas secara intelektual, namun juga secara emosional dan spiritual. Namun sayangnya dalam kehidupan menggereja, seringkali peran anak tidak begitu diberikan ruang dan yang sangat disayangkan suara anak seringkali terabaikan karena dianggap masih anak-anak dan tidak perlu banyak tahu mengenai berbagai hal. Padahal kita tahu anak sebenarnya juga mempunyai keinginan yang dapat disuarakan lewat berbagai cara dan ekspresi. Sangat disayangkan jika gereja terlambat menyadari arti penting pemenuhan hak dan perlindungan anak dalam berbagai bentuknya.
Paroki ramah anak, sebuah keniscayaan?
Sebagai sebuah komunitas,maka peran Paroki dalam membantu terwujudnya pemenuhan Hak Anak sangat penting karena sebagai lembaga keagamaan, maka nilai-nilai kehidupan dan iman perlu terus menerus diajarkan dan sekaligus diterapkan.
Umat yang berbasis keluarga ini sangat diharapkan perannya dalam mewujudkan Hak serta perlindungan terhadap Anak.
Dalam Undang-undang Perlindungan Anak (UUPA) No 23 2002, yang dimaksud dengan Anak adalah seseorang yang belum berusia 18 (delapan belas) tahun, termasuk anak yang masih dalam kandungan. (lebih…)

Oktober 1, 2011 at 12:56 pm Tinggalkan komentar

Memaknai NATAL secara beda, perlukah ?

Terjebak dan selalu terjebak lagi dalam romantisme lagu Natal dan berbagai pernak pernik hiasan Natal seperti kapas bertaburan di pohon NATAL yang melambangkan salju yang memutih menjelang setiap perayaan Natal yang jatuh pada 25 Desember, demikian kira-kira gambaran masyarakat kristiani saat ini.

Berbagai kenangan indah bernuansa NATAL bermunculan dan berkelebat dalam benak kita masing-masing dan kondisi semacam ini dilihat sebagai peluang bagi kalangan pembisnis. Pakaian baru, mainan baru, perabotan baru, perhiasan baru dan semuanya yang serba baru seolah-olah ingin menunjukkan kebaruan semangat hidup kita.

Namun ternyata meski semangat NATAL telah memasuki relung kehidupan kita saat ini, keberuntungan seringkali masih belum berpihak pada mereka yang lemah dan miskin.
Mari kita tengok kebelakang sejenak litani kepahitan hidup anak manusia di bumi tercinta Indonesia ketika media massa mengabarkan;

– kematian sia-sia banyak balita akibat busung lapar diberbagai penjuru Indonesia,
– orang tua yang memilih jalan bunuh diri dalam menyelesaikan problemanya namun sebelumnya tega meracuni anaknya sendiri karena alasan tidak tega melihat anaknya menderita,
– drama seorang penganggur yang terlunta-lunta di Jakarta sendirian dan akhirnya putus asa dan memilih bunuh diri dengan jalan loncat dari ketinggian sebuah bangunan rumah ibadah terkenal ,
– seorang pemuda yang frustasi karena tidak mampu membelikan obat untuk ibunya yang sedang sakit keras dan memilih loncat dari tower sebuah stasiun radio di Solo baru-baru ini yang berakibat kematian tragis,
– mereka para pekerja yang jumlahnya mencapai puluhan ribu bahkan diperkirakan mencaoai ratusan ribu yang telah dan akan kehilangan pekerjaan akibat PHK masal yang dipicu oleh krisis keuangan global,
– para korban Lumpur Lapindo yang masih harus berjuang untuk mendapat hak-haknya yang seharusnya dipenuhi pihak lapindo tanpa harus berdemo karena matinya rasa kemanusiaan para pimpinan Lapindo yang mengaku dirinya nasionalis namun tega membiarkan rakyat korban Lapindo sengsara dan mengemis suaka ke Kedubes Belanda,
– mereka para pedagang PKL yang tergusur dan tidak bisa berjualan lagi sehingga tidak ada lagi pemasukan untuk menunjang kehidupan keluarganya
– mereka para kaum miskin korban penggusuran maupun kebakaran yang kehilangan tempat tinggal dan harus rela menderita
– mereka para buruh yang rela dibayar murah karena tidak ada pilihan kerja lainnya
– para petani yang selalu saja susah mendapat pupuk untuk musim tanam padi dan harus membayar mahal sementara mereka harus menjual murah hasil panenannya
– kematian sia-sia para korban lalu lintas karena kecerobohan pengendara lainnya
– kematian sia-sia karena bencana banjir, longsor
– mereka yang harus hidup di kolong jembatan, bantaran kali dan daerah kumuh lainnya yang tidak layak untuk hidup dst

Menjadi refleksi untuk kita semua, mengapa sampai saat ini masih saja terus berjatuhan para korban yang sepatutnya tidak terjadi di negara yang mendasarkan pada Pancasila dan berkelimpahan sumberdaya alamnya ?
Mengapa perayaan NATAL yang kita peringati tidak mampu menjadi tonggak kelahiran solidaritas nyata yang mampu mengurangi jumlah korban yang menderita baik karena bencana alam, politik, kemiskinan, kesakitan dll ?

Solidaritas sejati, kemanakah ?

Memang problem bangsa yang besar ini tidak bisa diletakkan hanya dipundak kaum kristiani yang sebentar lagi merayakan Natal. Namun paling tidak hal ini bisa menjadi keprihatinan bersama kita sebagai kaum kristiani dan merupakan wujud rasa solidaritas sejati yang telah ditunjukkan dan diajarkan sendiri oleh Yesus yang mau solider dengan lahir dikandang hina di Betlehem sebagai pernyataan sikapnya yang mau bergaul dan mengangkat harkat dan martabat kaum hina dina.

Sudah layak dan sepantasnya kalau kaum kristiani yang kebetulan memiliki harta berlebih mau menyisihkan sebagian hartanya untuk misi kemanusiaan namun tidak dengan cara karitatif melainkan pemberdayaan. Alanglah indah jika para profesional kristiani mau berbagi kepandaian dan ketrampilannya secara gratis melalui berbagai cara seperti kursus singkat, mendirikan lembaga ketrampilan yang diperuntukkan untuk kaum papa dan anak jalanan.
Sudah selayaknya apabila momentum NATAL 2008, kita dilingkungan Gereja Katolik diajak merefleksi arah pendidikan yang difasilitasi oleh lembaga Katolik untuk tidak lagi fokus pada pendidikan formal yang hanya menciptakan banyak intelektual penganggur, meski mereka para siswa didik telah menghabiskan investasi berupa biaya pendidikan yang tidak sedikit jumlahnya.
Kalangan Konggregasi ataupun Ordo penyelenggara sekolah formal sebaiknya berpikir ulang dalam strategi mendidik anak bangsa sehingga alam kekayaan Indonesia bisa terkelola dengan baik demi meningkatkan kesejahteraan hidup masyarakat.

Contoh nyata adanya ATMI Solo yang mampu mendidik dan menghasilkan tenaga profesional di bidang permesinan, PIKA Semarang yang mampu menghasilkan para pengrajin meubel dengan kualitas tinggi, KPTT Salatiga yang mendidik para pemuda menjadi petani organik yang tangguh , akan sangat baik apabila bisa dilebarkan sayapnya ke daerah di Indonesia Timur sehingga mampu mencetak tenaga kerja profesional dibidang permesinan, perkayuan dan pertanian yang akan mampu memanfaatkan sumber daya alam yang melimpah disekitarnya.

Peningkatan ekonomi umat yang miskin

Kiprah gereja Katolik dalam mendorong dan menfasilitasi pendirian CU/Koperasi Kredit atau lebih dikenal dengan Kopdit setidak-tidaknya telah membantu umatnya untuk lebih melek finansial dan mengetahui bagaimana bersikap tolong menolong melalui usaha simpan pinjam, hidup hemat bersahaja dan terencana sebagai wujud rasa solider diantara umat. Kopdit saat ini semakin meluas layanannya dan tidak hanya terbatas dikalangan warga gereja namun sudah lintas SARA sehingga dapat menjadi ajang untuk menumbuhkan solidaritas universal sebagai sesama umat TUHAN.
Melalui Kopdit diharapkan sikap eksklusip dapat digantikan dengan inklusip dan plural yang menghargai keberagaman sebagai anugerah dari Sang Pencipta.
Namun hal ini tidak cukup, karena untuk meningkatkan ekonomi umat terutama yang miskin perlu dibarengi dengan pendampingan lainnya seperti meningkatkan jiwa bisnis, menambah kemampuan manajemen usahanya dan memperluas jaringan kerja/networking. Disinilah peran dari umat lainnya yang telah sukses dalam berbisnis mau berbagi menjadi mentor bagi umat lainnya yang miskin yang kebetulan sedang merintis bisnisnya, sehingga diharapkan kemampuan bisnisnya meningkat dan mampu keluar dari kemiskinannya.

Para pemuka umat sebaiknya mulai secara strategis dan taktis mencari jalan bagaimana layanan yang dilakukan gereja dapat secara langsung meningkatkan perekonomian umat sesuai dengan potensi lokal yang ada.

Misal jika dilingkungan keuskupan terdiri dari umat yang sebagian besar berprofesi sebagai petani maka layanan pastoralnya diharapkan dapat bersentuhan langsung dengan pertanian seperti misal pengembangan ternak sapi yang dipadu dengan wana tani dimana petani tidak perlu lagi membeli pupuk, cukup memanfaatkan kotoran ternak sapinya. Atau dapat pula mengembangkan tanaman kayu untuk jangka panjang karena selain bermanfaat secara ekonomis yakni berinvestasi, juga bermanfaat secara ekologis karena dapat mengurangi pemanasan global dan penghancuran hutan. Disamping itu gereja diharapkan dapat menfasilitasi penguatan organisasi petani menjadi kuat dan mampu mengakses pasar dengan melakukan pemasaran bersama sehingga possisi tawar umat yang kebetulan petani menjadi lebih kuat dan memperoleh harga jual dari hasil komoditinya secara layak.

Demikian pula jika kebanyakan umat menjadi nelayan, maka arah layanannya misalnya bagaimana organisasi nelayan menjadi kuat dan bersatu dalam emamsarkan hasil ikannya, bagaimana biaya sosial dapat dikurangi namun adat istiadat tetap lestari, bagaimana memanfaatkan teknologi untuk meningkatkan pendapatan seperti teknologi budidaya rumput laut, melestarikan hutan bakau dst.

Dalam ikut menyadarkan arti pentingnya menjaga lingkungan dan menjadi petani yang maju, maka kurikulum pendidikan dipersekolahan katolik sebaiknya juga mengandung muatan bagaimana mengelola alam secara ramah namun mensejahterakan manusia yang tinggal didalamnya.

Dengan demikian meminjam istilah Romo Mangun, sebaiknya kita umat kristiani tidak menjadi bonsai yang enak dipandang namun kurang menghasilkan.
Kita coba secara kreatif memaknai NATAL secara beda dan tidak terjebak dalam romantisme sehingga diharapkan dalam merayakan NATAL tahun ini semua kegiatan yang kita lakukan mampu membuat perbedaan kearah yang lebih baik, tidak hanya disaat merayakan NATAL terlebih bagaimana sikap hidup dan habitus kita menjadi baru, bebas dari sifat yang melawan KASIH seperti iri hati, dengki, mudah marah, sombong/arogan, masih suka menyimpan kesalahan orang lain dan yang lebih penting bagaimana kesaksian hidup umat kristiani untuk bebas KKN dan ikut memberantas KKN secara aktip melalui karya nyata dalam keseharian. Semoga

YBT. Suryo Kusumo
tony.suryokusumo@gmail.com
www.adikarsagreennet.blogspot.com
www.adikarsaglobalindo.blogspot.com

Desember 17, 2008 at 2:05 am Tinggalkan komentar

Natal, momentum untuk mewujudkan “Indonesia Baru?”

Setiap penghujung tahun, kita selalu diajak untuk merenungkan sebuah kosa kata yang telah akrab dalam kehidupan keseharian namun sulit sekali terwujud secara berkelanjutan yakni kata ‘DAMAI’.

Natal selalu mengajak kita untuk kembali ke fitrah, mempertanyakan arti sebuah perjalanan kehidupan dari mulai kelahiran kita sampai periode saat ini dalam sebuah kosmos yang kita kenal sebagai bumi yang satu tempat kita berpijak dan berkiprah.

Damai dibumi, damai dihati, damai dalam kemajemukan (suku, bangsa, agama, adat-istiadat, bahasa, budaya, ideologi dan perpolitikan). Bahkan para pendiri negara ini sejak dini telah meletakkan sebuah pondasi filosofi yang kokoh yang menekankan pentingnya perdamaian sehingga tercapai kompromi dalam perumusan PANCASILA .

Dalam Pembukaan UUD 45 , bapak bangsa mempersiapkan berdirinya sebuah negara yang damai melalui ungkapan yang menyatakan ‘ikut menjaga ketertiban dunia berdasarkan perdamaian abadi, keadilan sosial ….’

Namun akhir-akhir ini kita sebagai sebuah bangsa merasakan betapa semakin jauhnya kita dari harapan bapak bangsa. Perayaan keagamaan yang harusnya disyukuri dengan penuh suka cita dan kemenangan, berubah menjadi kekuatiran dan ketakutan oleh adanya teror berupa ancaman tindak kekerasan dan terjadinya pengeboman. Kemajemukan yang seharusnya makin memperkaya satu dengan yang lain dan menambah kearifan kita seperti halnya ketika melihat warna pelangi yang meskipun berbeda warna namun indah jika menyatu, ternyata tidak mampu membendung emosi dan sentimen keagamaan, kedaerahan yang sempit.

Perbedaan bukan lagi dianggap sebagai berkah, namun justru lebih dilihat sebagai ancaman, dan berujung pada konflik yang mengarah pada pembinasaan umat dan peradaban manusia. Kita semakin terjebak dalam kesempitan cara pandang dan berpikir, sehingga semakin meninggalkan akal sehat dan nurani. Ketika kita melakukan pembenaran untuk membinasakan satu dengan lainnya hanya karena berbeda agama, suku dll, maka yang menjadi pertanyaan adalah apakah kita dapat mempertanggungjawabkan perbuatan kita pada Tuhan, Sang Pencipta ? Kalau kita membunuh untuk membela saudara kita yang seiman, apakah surga akan penuh dengan orang yang bergelimang darah ditangannya ? Dan apakah kekerasan berupa pembunuhan menjadi solusi terbaik dan tidak menimbulkan dendam berkelanjutan ?

Mengapa ampunan dan kata maaf tidak mampu mengalahkan rasa benci dan dendam ? Bukankah kita lebih baik mengasihi musuh yang menganiaya kita sehingga dengan kasih maka diharapkan musuh akan bertobat untuk tidak memakai jalan kekerasan sebagai penyelesaian masalah yang dihadapi. Lalu kepada siapa kita akan membagi KASIH jika tidak kepada sesama kita, meskipun berbeda SARA ?

Ketika hati nurani mesti bicara

Mari dalam mensyukuri nikmat dan anugerah yang kita terima dalam hidup ini, kita telah mampu lebih mengedepankan suara hati nurani yang bersih, bening dan jujur. Biarlah Sang Maha Kuasa menyentuh hati kita lewat nurani kita, sehingga kita tidak mengotori kehidupan yang sedang kita jalani dengan berbagai bentuk kekerasan, baik kekerasan fisik maupun non fisik. Kita mencoba kembali untuk merajut benang-benang persaudaraan yang terkoyak oleh berbagai sebab dengan tali silaturahmi dan persaudaraan sejati. Coba kita tengok kembali perjalanan hidup kita selama setahun terakhir ini sehingga kita mampu kembali ke fitrah dan diawal tahun baru 2008 kita mampu menjadi manusia baru yang sungguh-sungguh berubah mengarah ke kebaikan budi dan nurani.

KKN dan sejenisnya juga merupakan bentuk lain dari teror bom di Bali dan sebentuk kekerasan lain yang sangat halus karena menyerobot/ merampas hak orang lain yang bukan milik kita, serta memutus rantai rahmat yang diberikan Tuhan YME kepada sesama kita melalui kekuasaan yang kita miliki ?

Bukankah kekuasaan yang ada ditangan kita adalah amanah dari Sang Maha Murah ? Mengapa kita menjadi serakah dan buta hati untuk mengambil hak orang lain maupun memeras orang lain yang tak berdaya karena kebetulan kita diberi sedikit kekuasaan yang bukan milik kita karena sebenarnya merupakan mandat dari rakyat yang setiap saat dapat dicabut? Bukankah memperdagangkan/ membisniskan kekuasaan yang kita miliki, berarti mengkianati pengabdian kita yang tulus kepada sesama kita ?

Lain kata, lain perbuatan ?

Marilah kita bangun raga kita ini dengan jiwa yang bersih dan jauh dari kepura-puraan serta melepas topeng yang tidak perlu kita kenakan. Janganlah kita menjadi bangsa pendosa yang terkutuk karena tidak mampu memanfaatkan waktu yang diberikan Tuhan kepada kita untuk bertobat sejati ? Atau kita menjadi bangsa munafik yang seolah-olah sangat religius tetapi sebenarnya sangat jauh dari sumber kehidupan itu semdiri yakni Sang Pencipta ?

Bagaimana kita harus menerangkan kepada komunitas dari bangsa lain yang melihat kesemarakan kehidupan beragama di Indonesia yang tinggi yang ditandai dengan siaran acara televisi berupa mimbar agama dari semua agama, sinetron yang berbau religi , namun disisi lain KKN jalan terus bahkan masuk ke kalangan DPR yang nota bene wakil rakyat dan juga yudikatif ?Atau kita termasuk golongan bangsa TOMAT (Tobat namun kemudian kumat) untuk selalu menipu Tuhan dengan retorika dan segala puja puji yang penuh kepura-puraan ? Bagaimana kita mengaku sangat toleran satu dengan yang lain , sementara beberapa tempat ibadah mengalami pembakaran, dirusak, bahkan dilakukan pengeboman ?

Bagaimana sila kedua Pancasila menegaskan pentingnya rasa kemanusiaan yang adil dan beradab, sementara orang-orang pinggiran terus digusur tanpa alternatip jalan keluar yang lebih baik? Merampas hak hidup berupa pekerjaan di sektor non formal melalui penggusuran paksa hanya karena melanggar aturan PERDA namun tanpa solusi, adalah sebentuk pembunuhan keji secara perlahan dan menghilangkan harapan hidup seseorang beserta keluarga yang ditanggungnya.

Bagaimana kita mengaku beradab, sementara di beberapa tempat, orang dapat saling membinasakan seperti layaknya anjing hanya karena adanya perbedaan SARA? Jangan kita terjebak dalam romantisme sempit sentimen keagamaan maupun kesukuan yang membuat kita kerdil dan buta hati, dimana kita seolah-olah Sembahyang Terus, namun Mencuri/ Maksiat tetap Jalan (STMJ)

Natal, melahirkan “kesadaran baru”

Natal, dalam artian “kelahiran” seharusnya mampu juga melahirkan sikap dan kesadaran baru yang berbeda dari sikap lama. Apabila sebelumnya kita gemar ber KKN ria maka semangat NATAL seharusnya mampu mengubah menjadikan diri kita lebih mencintai kejujuran dan solider dengan rakyat kecil yang menderita.

Kalau sebelumnya kita lebih mementingkan diri kita dan keluarga saja, NATAL kali ini seharusnya mampu memperluas perhatian kita untuk kepentingan yang lebih luas yakni kepentingan umu/publik.

Sebagai pegawai negeri yang tak lain merupakan pelayan publik misalnya, bagaimana layanan publik menjadi lebih baik dan manusiawi. Tantangan bagi dinas-dinas pemerintah untuk setelah NATAL yakni dalam awal tahun 2008 untuk tidak kalah dalam kualitas pelayanannya dengan BUMN seperti BANK BUMN, TELKOM dll maupun dengan sektor privat seperti kantor TELKOMSEL INDOSAT dll. Kita dapat merasakan bagaimana sektor privat melayani warga sebagai pelanggan dengan penuh kesungguhan, sikap yang sangat ramah, ruangan yang bersih dan ber AC antrian yang tertib dan tempat duduk yang nyaman, Alangkah indahnya jika hal yang sama juga dapat dinikmati ketika kita masuk kantor dinas-dinas pemerintah dimana rakyat diperlakukan seperti halnya pelanggan (customer).

NATAL seharusnya mampu menggugah kesadaran kita akan arti pentingnya sikap “kesederhanaan” seperti yang diteladankan Yesus sendiri. Kita kurangi kebisaaan hidup penuh foya-foya dan boros digantikan dengan “sikap hidup hemat dan berinvestasi”
Kita hentikan kebiasaan ketergantungan pada alkohol dan narkoba , mabuk-mabukan, pesta berlebihan, termasuk juga sebenarnya kebiasaan merokok yang seolah-olah tidak merugikan, namun sebenarnya juga berbahaya karena dapat mengakibatkan sakit jantung, impotensi, kelainan pada janin, dan juga membahayakan bagi orang lain yang meski tidak merokok namun sangat berbahaya apabila menghirup asap rokok yang dikenal dengan perokok pasip.

NATAL sebaiknya mampu meningkatkan kesadaran arti penting menjaga kelestarian lingkungan. Natal yang kebetulan selalu jatuh pada musim hujan dapat jadi momentum untuk melahirkan kebiasaan baru untuk “menumbuhkan tanaman alias menanam dan memelihara tanaman” yang mampu menghijaukan dan menyejukkan lingkungan kita terutama lahan tidur, lahan kritis dan lahan disekitar kita yang belum termanfaatkan. Kebiasaan menumbuhkan tanaman juga mampu membersihkan polusi udara, mengurangi rasa stres, menjadikan alam sebagai sahabat, memberi tempat bagi kehidupan yang layak bagi burung dan satwa lainnya.

NATAL dapat dijadikan sebagai awal untuk lebih meningkatkan sikap hidup bersih (termasuk jiwa kita), membiasakan membuang sampah pada tempatnya, menjadikan ruang publik seperti pasar tradisional , rumah sakit umum, sekolah dll menjadi lebih bersih, tertib, teratur dan enak dipandang.

Mari kita bulatkan tekad untuk kedepan, melalui Natal tahun ini kita mampu lahir kembali sebagai bangsa yang besar dalam mewujudkan nilai luhur religiositas, meninggalkan kebiasaan dosa berupa KKN, politik uang, perjudian, mabuk, kekerasan dalam segala bentuknya , mampu meningkatkan pelayanan publik dengan standar yang lebih baik, mewujudkan kasih dalam perbuatan nyata sehari-hari diseputar tempat kerja, lingkungan keluarga kita, tetangga dll.

Kita jangan terjebak dalam pesta pora yang mengenyangkan perut semata, memuja kemewahan dalam konsumsi pakaian, pohon natal dan gemerlapnya lampu dan hiasan Natal maupun terperangkap dalam “Sinterklas Kapitalis’, namun mampu menggali arti kesahajaan, pengorbanan untuk mampu mengantar ‘kelahiran anak manusia’ oleh seorang gadis desa yang lugu bernama Maria, perwujudan rasa tanggung jawab dan kebapakan dari Yosep, dan yang paling penting adalah bagaimana Allah Bapa menyambung kembali tawaran keselamatan melalui kelahiran PutraNYa Yesus ke dunia. Mari kita wujudkan Natal yang penuh kasih dan damai, tidak dengan ucapan maupun jabat tangan semata, melainkan dalam aksi nyata dan praksis kehidupan keseharian kita.

Membagi kasih tanpa merasa berbuat lebih, mendorong terciptanya kedamaian tanpa kekerasan, menyongsong tahun baru 2008 dengan semangat pelayanan dan pengabdian yang tulus demi peningkatan harkat dan martabat sesama.

Kita wujudkan Indonesia Baru dengan habitus baru yang berwajah humanis manusiawi dalam tatanan negara yang modern dan demokratis, menjunjung harkat dan martabat manusia melalui penghargaan terhadap HAM. Semoga

YBT Suryo Kusumo
Pengembang masyarakat perdesaan
tony.suryokusumo@gmail.com

Oktober 13, 2008 at 8:20 am Tinggalkan komentar

Pos-pos Lebih Lama


Kategori

November 2017
S S R K J S M
« Mei    
 12345
6789101112
13141516171819
20212223242526
27282930  

Tamu Adikarsa

  • 54,938 pengunjung

Klik tertinggi

  • Tidak ada