Posts filed under ‘Uncategorized’

Surat terbuka untuk Para Pelaku Penyerangan Yogya (tanggapan untuk POLRI atas penyerangan terbaru di Yogyakarta)

Wahai saudara-ku sebangsa dan setanah air
Sebagai sesama anak bangsa Indonesia tercinta
Marilah kita menjauhkan dari tindakan anarkis
Menghentikan tindak kekerasan yang tak berujung
Mereka yang kau aniaya adalah manusia ciptaan-NYA
Sesama anak bangsa yang berdasar pada Panca sila
Bukan segolongan binatang atau sebangsa anjing
Untuk binatang-pun tak sepantasnya kau lakukan

 

Wahai saudara-ku sebangsa dan setanah air
Seandainya engkau ingin melawan kebatilan, maka;

Lawanlah mereka para mafia koruptor jahanam
Yang telah menyengsarakan banyak sekali warga
Yang membuat banyak balita mati sia sia kurang gizi
Yang membuat negeri ini semakin miskin dan berhutang

Lawanlah mereka para mafia bandar narkoba
Yang telah memupus harapan para kaum muda
Sehingga mereka terpaksa mati sia sia di usia muda

Lawanlah mereka para mafia peradilan kita
Yang telah menukar & menjual rasa keadilan
Dan menggantikannya dengan uang suap

Lawanlah mereka golongan para politisi busuk
Yang telah membusukkan harapan rakyat kecil
Dengan korupsi berjamaah untuk memperkaya diri
Dan plesiran ke luar negeri berkedok studi banding

Lawanlah mereka para mafia pertambangan
Yang menjadikan lahan gersang bagaikan tak bertuan
Dan membuat warga lokal merana dalam hidupnya
Karena lingkungan mereka rusak porak poranda

Lawanlah mereka para mafia pemusnah hutan/illegal loging
Karena mereka telah menghancurkan sumber kehidupan
Beberapa suku asli anak negeri yang menggantungkan hidupnya
Pada kelestarian hutan sebagai tempat habitat hidupnya
Yang menyebabkan banjir & longsor di pelosok nusantara

Lawanlah mereka para mafia perdagangan manusia
Yang telah merenggut kegadisan dan kemerdekaan
Para gadis muda desa yang tak tahu ganasnya mereka
Yang telah menyekap bagaikan para budak belian

Dan masih banyak lagi PR negeri yang harus diselesaikan
Mari kita stop jalan kekerasan dalam segala bentuknya
Kita gantikan dengan kelembutan hati & kebersamaan
Sebagai sesama anak negeri yang bernama INDONESIA

 

Iklan

Mei 30, 2014 at 6:44 pm Tinggalkan komentar

Rencana Jokowi Tak Bagi-bagi Kursi Sulit Diterima Parpol (kompas.com)

Justru hal ini yang ditunggu oleh rakyat
Pilpres bukan untuk bagi bagi kursi menteri

Salut untuk Jokowi yang berani tampil beda
Berani mengubah waduk jadi taman rakyat
Mengubah bantaran jadi kampung yang elok
Mengubah Tanah Abang jadi daerah aman

Saatnya rakyatlah yang berdaulat di negeri ini
Memilih Presiden yang berani tampil beda
Sederhana, merakyat, jujur, tulus & peduli
Pada kesejahteraan rakyat melalui bukti nyata
Bukan yang hanya beteriak “AKAN, AKAN & AKAN”

April 19, 2014 at 5:01 am Tinggalkan komentar

Adat tetap lestari, namun tidak perlu pesta pora berlebihan sehingga tidak membebani.

Salah satu hasil pengamatan secara sederhana dan sepintas selama menfasilitasi pengembangan dan pemberdayaan masyarakat selama puluhan tahun terutama di pedesaan Indonesia Timur adalah mengenai kebiasaan yang ada dikalangan masyarakat yang dianggap biasa namun sebenarnya perlu dikoreksi yakni kebiasaan pesta pora atas nama adat/budaya, sementara dalam kenyataan di  masyarakat pedesaan masih banyak ditemui keluarga miskin yang tak memperoleh akses pada air bersih, tak mampu menyekolahkan anaknya, masih hidup dalam jeratan hutang berkelanjutan dengan bunga tinggi oleh rentenir.

Kemiskinan yang melingkar lingkar seolah tak berujung, salah satu penyebabnya adalah kebiasaan berpesta pora melebihi kekuatannya karena terkait masalah harga diri yang berlebihan dimana keluarga yang satu tidak mau kalah dengan keluarga lainnya ketika menyelenggrakan pesta. Perlombaan pesta yang tak ada ujung dan pemenangnya telah secara masal dan sistemik mampu menguras asset atau kekayaan masyarakat desa sehingga wajar jika meski begitu banyak dan gencar bantuan dari pihak luar untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat desa namun seolah bantuan tersebut menguap tak berbekas.

Bahkan ketika menyelenggarakan pesta, mereka masyarakat desa tidak segan untuk menjual asetnya dengan harga murah atau bahkan berhutang dengan bunga yang tinggi.

Perlu ada keberanian dari para tokoh adat atau budaya dan tokoh masyarakat lainnya bersama pemerintah daerah  untuk memikirkan dan melakukan reorientasi agar perayaan pesta atas nama adat tidak perlu membebani karena adat sesungguhnya adalah asset yang dimiliki masyarakat yang harus tetap dijaga agar  mampu menjaga soliditas, membangun solidaritas dan menjaga serta meningkatkan peradaban menjadi lebih berharkat dan bermartabat.

Masyarakat kita memang banyak yang telah bebas dari buta aksara/buta huruf, namun masih banyak yang mengalami buta finansial karena tidak pernah belajar untuk meningkatkan kecerdasan finasial/keuangan keluarganya. Meski saat di bangku sekolah kita selalu diajarkan peribahasa “Hemat pangkal kaya”, namun dalam kenyataan perilaku hemat belum menjadi perilaku keseharian. Era Orde Baru, pemerintah telah mencanangkan Gerakan Hidup Hemat untuk mengencangkan ikat pinggang, namun ternyata tidak berkelanjutan. Contoh lainnya yang paling nyata adalah perilaku korup yang ditunjukkan para koruptor yang rakus akan harta telah menjauhkan sikap hidup hemat karena suka melakukan mark-up, selain itu mereka para koruptor juga mengambil dana dari yang bukan haknya sehingga meski mereka menjadi kaya namun diperoleh dengan cara yang salah dan tak bermartabat. Menjadi kaya memang tidak salah, namun harus dimulai dengan sikap hemat, tidak berpesta pora yang melebihi kekuatan kita, membangun asset/kekayaan melalui hidup hemat menyisihkan sebagian pendapatan kita untuk menambah aset sebelum digunakan untuk memenuhi kebutukan keluarga , berbisnis, dan berinvestasi.

Kebiasaan menabung sejak dari kecil perlu digalakkan kembali, jiwa bisnis harus ditanamkan sejak usia dini sehingga semakin banyak yang menjadi pembisnis yang memeperkuat perekonomian nasional kita dan mampu menciptakan lapangan kerja bagi banyak orang. Kebiasaan berinvestasi dalam bentuk menanam pohon atau tanaman kayu tahunan perlu terus dilakukan karena selain meningkatkan asset kita, juga mampu mengurangi pemanasan global dan perubahan iklim serta menjaga kelestarian lingkungan kita, demikian pula investasi melalui pembelian saham, reksa dana ataupun unit link di asuransi  menjadikan masyarakat kita sebagai investor yang mana dana yang terkumpul dapat menjadi modal usaha, asal jangan terjebak dalam “investasi bodong” yang penuh tipuan yang menjanjikan return yang tinggi namun tidak masuk akal. Kecerdasan finansial harus diajarkan di sekolah, jiwa bisnis harus terus dipupuk sehingga tidak banyak lagi sarjana yang tertarik menjadi PNS sehingga beban keuangan negara juga semakin berkurang dan perekonomian nasional menjadi lebih meningkat.

Kita juga bisa belajar hidup hemat dari komunitas agama tertentu dimana ketika mengalami musibah kematian, tidak lagi perlu menyiapkan makan, cukup hanya dengan air mineral gelas dan permen, sehingga keluarga yang berduka tidak perlu menyiapkan dana dalam jumlah besar, tidak ada lagi sembahyang yang harus menyiapkan makan dst. Demikian pula kebiasaan kenduri atau sembahyangan tidak lagi perlu membawa pulang makanan yang telah diolah dan siap saji, namun cukup membawa pulang dalam bentuk sembako sehingga tidak mubazir dan dapat dimasak kapan saja sesuai kebutuhan.

Saatnya bangsa kita berani keluar dari kebiasaan pesta pora yang berlebihan atas nama adat/budaya dan saatnya berani melakukan reorientasi agar berperilaku hidup hemat sehingga bangsa kita tidak terus terjerumus dalam hutang luar negeri berkelanjutan yang semakin meningkat dari tahun ke tahun. Kita harus berani belajar dari bangsa lain terutama bangsa Jepang dan Korea Selatan dimana meski telah menjadi bangsa yang kaya dan menguasai teknologi tinggi namun kebiasaan hidup hemat terus menjadi kebiasaan sehingga mereka menjadi negara yang mampu memberi pinjaman ke negara lain seperti negeri kita yang masih terus terperangkap dan terjebak untuk membayar hutang beserta bunganya. Salam hidup hemat untuk mandiri/berdikari.

Oktober 28, 2013 at 4:26 am Tinggalkan komentar

SELAMAT MERAYAKAN IDUL FITRI 1434 H

Gema takbir masih terus berkumandang

Wujud kegembiraan atas kemenangan

Setelah penuh dalam menjalankan puasa

Semoga dalam menyongsong kemenangan iman

Untuk kembali ke kefitrian yang saling memaafkan

Kebersamaan kita dalam keberagaman  SARA

Menjadi kekuatan dalam merajut impian bersama

Mewujudkan PANCA SILA dalam masyarakat kita.

Selamat merayakan Idul Fitri 1434 H teruntuk

Saudara saudari/ setanah air yg merayakannya.

 

Agustus 7, 2013 at 2:48 pm Tinggalkan komentar

Koperasi bermitra sejajar dengan korporasi,mungkinkah?

Gerakan pengembangan koperasi terus digalakkan baik oleh pemerintah ,lembaga keagamaan maupun adat. Koperasi diyakini merupakan wadah yang paling pas untuk membangun organisasi bisnis rakyat dalam upaya membangun kesejahteraan bersama yang berbasis kerakyatan. Namun niatan mulia tersebut tidak semudah membalik telapak tangan, karena kita tahu untuk berhasil dalam berbisnis banyak syarat-syarat yang harus dipenuhi diantaranya kemampuan jiwa bisnis, manajemen bisnis, kemampuan melakukan loby dan negosiasi, kemampuan melihat peluang dan yang paling penting bagaimana mampu menang dalam persaingan bisnis yang seringkali tidak adil dan kejam karena masih banyaknya mafia yang menguasai pasar dimana mereka para mafia tidak akan rela kue bisnisnya diambil pesaingnya sehingga dengan menghalalkan segala cara mereka akan terus berusaha menguasai pasar untuk mendapatkan keuntungan yang sebesar-besarnya.

Keinginan membangun koperasi menjadi gerakan ekonomi rakyat untuk memperjuangkan kepentingan nasionalnya dalam membangun kesejahteraan bersama untuk mewujudkan sila kelima Pancasila terus dilakukan, namun banyak tantangan yang dihadapi diantaranya;

  1. Terbatasnya pengetahuan dan pengalaman berbisnis di kalangan masyarakat yang berkehendak  mendirikan koperasi
  2. Terbatasnya keberanian masyarakat pendiri koperasi dan anggotanya untuk menanggung kerugian akibat bebisnis secara bersama sama dan belajar dari kerugian untuk selanjutnya meraup untung dan sukses.
  3. Rendahnya kepercayaan antar pengurus dan juga antar anggota satu dengan lainnya karena pengalaman traumatik masa lalu terkait gerakan koperasi seperti KUD yang dikembangkan dengan cara top-down dan penuh dengan subsidi dan proteksi berlebihan.
  4. Terbatasnya SDM pengelola koperasi yang memahami jati diri koperasi, memiliki jiwa bisnis, pemahaman tentang bisnis, memiliki kemampuan manajerial dalam mengembangkan organisasi bisnis, dan rela mengembangkan bisnis yang menguntungkan tidak hanya diri sendiri namun juga anggota koperasi lainnya. Banyak terjadi, ketika SDM koperasi memiliki kemampuan yang professional dalam mengelola bisnis, mereka tergiur dan tergoda untuk melakukan bisnisnya secara sendiri sehingga dapat menikmati keuntungan lebih besar dibanding melalui koperasi.
  5. Lemahnya penerapan asas transparansi, akuntabilitas, pengawasan yang berlapis dan berjenjang terhadap pegurus dan pelaksana koperasi karena belum secara ketat menerapka SOP serta belum memiliki system deteksi dini untuk berbagai penyalahgunaan (wewenang, dana dan kebijakan).

Dan masih dapat diperpajang daftar tersebut, namun intinya perlu upaya yang lebih dan terus menerus tanpa lelah untuk memperkuat kapasitas SDM koperasi dalam menerapkan manajemen yang bersih dan mampu menerapkan inovasi untuk memenangkan persaingan bisnis.

Dengan demikian peranan pendidikan menjadi sangat strategis untuk terus memperkuat kapasitas SDM pengelola koperasi dan memberikan pemahaman kepada anggota arti penting jati diri koperasi dan harus dialokasikan dana yang mencukupi untuk memperkuat dan menjadikan pengelola koperasi tak kalah profesional dan kompetensinya dengan pengelola bisnis korporasi.

Cara pandang yang menyatakan koperasi harus bersaing melawan korporasi tidaklah salah, namun dalam realitas bisnis, sangatlah tidak mudah untuk bersaing dengan korporasi yang selain memiliki modal yang lebih dari cukup, kompetensi SDM-nya yang profesional, juga jaringan bisnis yang menggurita dan menguasai pasar dunia.

Koperasi dihadapkan pada pilihan sulit ketika harus memilih untuk menjadikan korporasi sebagai mitra atau melawannya.

Menjadikan korporasi sebagai mitra untuk saat ini adalah lebih realistis dibanding memposisikan koperasi sebagai lawan korporasi. Pertimbangannya adalah ketika memposisikan sebagai lawan,koperasi tidak mempunyai kemampuan yang cukup untuk bersaing, baik dari sisi permodalan, ketersediaan SDM dan kemampuan membangun jaringan keluar negeri. Bagaikan kedua petinju yang sedang bertanding namun keduanya memiliki kemampuan yang berbeda, maka yang mempunyai kemampuan terbatas harus terus merangkul lawannya supaya tidak terkena bogem mentah terus menerus dan akhirnya KO.

Demikian pula gambaran sebagian besar koperasi kita yang meskipun secara potensi mampu bersaing dengan korporasi,namun secara realitas masih membutuhkan banyak sentuhan  dan penguatan kapasitas secara terus menerus untuk dapat bersaing dan memenangkan persaingan yang sangat ketat.

Mengajak untuk melakukan bisnis inklusip pada korporasi serta bekerja sama dengannya merupakan pilihan realitis koperasi, dimana koperasi merupakan wadah bagi rakyat untuk membangun kerajaan bisnisnya secara bersama dimana dengan bermitra dengan korporasi , para pengelola koperasi mulai belajar untuk mengembangkan bisnisnya secara profesional dan membangun jaringan yang lebih kuat lagi.

Kita masih ingat pada waktu awal Orde Baru banyak koperasi besar yang bergabung dalam “Gabungan Koperasi”  seperti batik, hasil bumi seperti kopra dst mempunyai peran yang sangat besar dalam perekonomian nasional namun kemudian semakin menurun ketika kebijakan pemerintah lebih berorientasi pada ekonomi pasar bebas dan membuka seluas luasnya penamanan modal dari luar (PMA).

Potensi pengumpulan modal dari masyarakat melalui koperasi jika dikelola dengan baik  sangatlah besar seperti contoh Koperasi langit Biru di Jakarta yang mampu mengumpulkan 6,7 trilyun rupiah namun sayangnya nama koperasi disalahgunakan.

Dibidang keuangan, kita dapat melihat perkembangan yang sangat pesat dari Koperasi Kredit/Kopdit (Credit Union) yang mampu bersaing dengan bank bank nasional. (lebih…)

Mei 5, 2013 at 10:21 pm Tinggalkan komentar

Celoteh tentang negeri tercinta

Kebiasaan setiap “Tahun baru” yang tidak tepat

Setiap awal tahun ada berita tentang kenaikan
Tarif TDL mau naik, BBM juga mau dinaikkan
Harga harga kebutuhan hidup juga ikutan perlahan naik

Seharusnya setiap awal tahun ada berita gembira bagi rakyat
Biaya pendidikan, kesehatan turun dan murah, harga BBM menurun
Sehingga taraf hidup rakyat ikut terangkat naik & lebih sejahtera

Rakyat jadi bisa tersenyum karena asset/kekayaannya naik
Tingkat hidup semakin baik, layanan publik murah & terjangkau
Syukur kalau biaya pendidikan, kesehatan dll bisa digratiskan
Seperti layaknya kartu sehat dan kartu pintar di DKI

Bukan saat tahun baru yang naik justru penderitaan rakyat kecil.

Beristirahatlah dalam damai “Adik RI”

Anak perempuan itu bernama RI umur 11 tahun
Baru saja kembali kepangkuan Sang Pencipta
Karena diduga korban kekerasan seksual
Berupa perkosaan yang sangat tidak manusiawi

Semoga pelaku dapat segera terungkap & tertangkap
Dan harus dihukum seberat-beratnya & seadil adilnya

Juga untuk para anak Indonesia korban perkosaan
Yang telah berpulang semoga beristirahat dalam kedamaian

“Mengapa bersikap reaktip, tidak proaktip?”

Kecelakaan mobil Ferari Pak DI
Menuai banyak serangan balik
Terutama dari para politisi Senayan

Memang Pak DI melanggar aturan
Namun pertanyaannya yg menggelitik
Mengapa baru dipermasalahkan sekarang
Setelah mendapat kecelakaan ?

Bukankah dengan mobil listrik hijau lainnya
Beliau juga datang ke DPR Senayan
Tanpa ada surat dan belum ada uji kelayakan?
Dan bahkan samapi ke Bogor & telah mencapai 1000 km ?

Terlihat kebiasaan polisi kita yang reaktip
Setelah kejadian baru bereaksi
Sama dengan kalau ada pengeboman
Baru hotel dan jalan di razia
Kecuali cara kerja Densus 88

Anak Dibonceng Jatuh & Tewas Terlindas Truk, Ibu Dijadikan Tersangka (detik.com)

Tidak habis pikir, inilah hukum yang berwajah tak manusiawi
Sebuah keluarga telah kehilangan anaknya
Masih harus ditambah dengan ibunya yang jadi tersangka
Alangkah sedih suami sekaligus ayah dari anaknya
Yang harus kehilangan anak dan masih dipisahkan dari istrinya?

Jika benar seandainya ibu tersebut melakukan kelalaian
Yang membuat si anak yang menjadi korban meninggal
Adakah seorang ibu yang tega anaknya meninggal karena kelalaiannya?
Padahal ibu itu sendiri sekarang terbaring lemah karena kakinya juga terlindas

Lalu kalau demikian, benarkah hukum ditegakkan untuk mewujudkan keadilan ?
Dimana sila ke-2 Pancasila benar-benar dapat diwujudkan ?
Haruskah kita kaku untuk mengikuti hukum yang tidak manusiawi? (lebih…)

Maret 17, 2013 at 10:48 pm Tinggalkan komentar

Melakukan donor darah, benarkah kita merugi untuk berbagi?

Kalau diantara kita ditanya, kapan peringatan Hari PMI, maka saya yakin banyak diantara kita yang akan susah menjawabnya, demikian pula ketika ditanya apa saja kegunaan mendonorkan darah atau sudah pernahkah mendonorkan darah, maka kita akan melihat wajah kebingungan dari yang ditanya. Maka sungguh beruntung para pemirsa TV yang sempat menonton tayangan Kick Andy pada 30 September 2011 karena mendapat pecerahan dari nara sumber yang memang mengalaminya sendiri serta kita kembali diusik hati nurani kita untuk kembali berpikir menjadi pendonor darah yang mungkin selama ini telah ada keinginan dalam hati namun belum sempat terealisasikan.
Dari http://id.wikipedia.org/wiki/Palang_Merah_Indonesia, tugas pokok PMI adalah membantu pemerintah Indonesia di bidang sosial kemanusiaan terutama tugas-tugas kepalang-merahan yang meliputi: Kesiapsiagaan Bantuan dan Penanggulangan Bencana, Pelatihan Pertolongan Pertama untuk Sukarelawan, Pelayanan Kesehatan dan Kesejahteraan Masyarakat, Pelayanan Transfusi Darah.
Kinerja PMI dibidang kemanusiaan dan kerelawanan mulai dari tahun 1945 sampai dengan saat ini antara lain sebagai berikut:
1. Membantu saat terjadi peperangan/konflik. Tugas kemanusiaan yang dilakukan PMI pada masa perang kemerdekaan RI, saat pemberontakan RMS, peristiwa Aru, saat gerakan koreksi daerah melalui PRRI di Sumbar, saat Trikora di Irian Jaya, Timor Timur dengan operasi kemanusiaan di Dilli, pengungsi di Pulau Galang.
2. Membantu korban bencana alam. Ketika gempa terjadi di Pulau Bali (1976), membantu korban gempa bumi (6,8 skala Richter) di Kabupaten Jayawijaya, bencana Gunung Galunggung (1982), Gempa di Liwa-Lampung Barat dan Tsunami di Banyuwangi (1994), gempa di Bengkulu dengan 7,9 skala Richter (1999), konflik horizontal di Poso-Sulteng dan kerusuhan di Maluku Utara (2001), korban gempa di Banggai di Sulawesi Tengah (2002) dengan 6,5 skala Richter, serta membantu korban banjir di Lhokseumawe Aceh, Gorontalo, Nias, Jawa Barat, Tsunami di Nangroe Aceh Darussalam, Pantai Pangandaran, dan gempa bumi di DI Yogyakarta dan sebagian Jawa Tengah. Semua dilakukan jajaran PMI demi rasa kemanusiaan dan semangat kesukarelawanan yang tulus membantu para korban dengan berbagai kegiatan mulai dari pertolongan dan evakuasi, pencarian, pelayanan kesehatan dan tim medis, penyediaan dapur umum, rumah sakit lapangan, pemberian paket sembako, pakaian pantas pakai dan sebagainya.
3. Transfusi darah dan kesehatan.
Pada tahun 1978 PMI memberikan penghargaan Pin Emas untuk pertama kalinya kepada donor darah sukarela sebanyak 75 kali. Berdasarkan Peraturan Pemerintah Nomor 18 Tahun 1980 telah diatur tentang tugas dan peran PMI dalam pelayanan transfusi darah. Keberadaan Unit Transfusi Darah PMI diakui telah banyak memberikan manfaat dan pertolongan bagi para pasien/penderita sakit yang sangat membutuhkan darah. Ribuan atau bahkan jutaan orang terselamatkan jiwanya berkat pertolongan Unit Transfusi Darah PMI. Demikian pula halnya dengan pelayanan kesehatan, hampir di setiap PMI di berbagai daerah memiliki poliklinik secara lengkap guna memberikan pelayanan kepada masyarakat secara murah.
4. Untuk menjaga perdamaian dunia (http://id.wikipedia.org/wiki/Palang_Merah_Indonesia)
Adapun 7 (tujuh) Prinsip Dasar Gerakan Palang Merah Internasional dan Bulan Sabit Merah Internasional
1. Kemanusiaan (humanity)
2. Kesamaan (impartiality)
3. Kenetralan (neutrality)
4. Kemandirian (independence)
5. Kesukarelaan (voluntary service)
6. Kesatuan (unity)
7. Kesemestaan (universality)
Dari paparan diatas, salah satu tugas mulia PMI adalah menyediakan kebutuhan darah bagi yang memerlukannya dan melakukan pengambilan darah dari pendonor dengan cara aman,sehat dan terkontrol.
Kita tahu PMI selama ini menjadi lebih dikenal karena kepemimpinan yang kuat dari Pak Mari’e Mohammad ,mantan Menteri Keuangan yang dikenal dengan Mr Clean yang telah memajukan PMI dengan segala keterbatasannya .
Kemudian dilanjutkan dengan gaya kepemimpinan Pak Jusuf Kalla yang banyak melakukan terobosan untuk meningkatkan kinerja dan mengenalkan peran PMI ditengah masyarakat.
Dalam http://kickandy.com/theshow/1/1/2181/read/SETETES-DARAH-UNTUK-KEHIDUPAN ,saat ini dibawah kepemimpinan mantan Wakil Presiden RI – Jusuf Kalla, program baru yang dilakukan PMI untuk mendapatkan donor darah adalah dengan upaya jemput bola kepada pendonor. Karena itu PMI membuat sederet terobosan, antara lain membuka gerai UDD (Unit Donor Darah) di beberapa tempat seperti, kampus dan pusat perbelanjaan. PMI berusaha menjadikan aktifitas donor darah kini menjadi sebuah tren gaya hidup baru.
Aktifitas donor darah ini semakin menjadi lifestyle dan agenda penting ketika media sosial ikut berperan. Seperti yang dilakukan seorang online social media publisher, Valencia Mieke Randa – dengan komunitas Blood For Life (BFL). Berawal dari mailing list berkembang ke social media lainnya seperti Facebook ataupun Twitter. Dari hanya 44 orang anggotanya, kini telah mencapai hampir 4000an dan tersebar di seluruh Indonesia. Mereka yang tergabung dalam BFL adalah sekumpulan orang-orang yang siap mendonorkan darahnya untuk siapa saja yang membutuhkan. Kapan dan dimanapun, selama golongan darah yang dibutuhkan sama dan kondisinya memungkinkan, semua anggota BFL rela menyumbangkan darahnya. BFL tidak menerima uang dan mereka hanya berusaha untuk menggugah hati orang banyak dengan mengatakan, “Sekantung darah yang mereka donorkan tak akan berarti, merugikan, atau mengubah apa pun pada diri mereka, tapi sangat berarti bagi orang lain”. Tak heran bila BFL dinobatkan sebagai Web Hero oleh Google Chrome. (lebih…)

November 2, 2012 at 9:45 pm Tinggalkan komentar


Kategori

November 2017
S S R K J S M
« Mei    
 12345
6789101112
13141516171819
20212223242526
27282930  

Tamu Adikarsa

  • 54,938 pengunjung

Klik tertinggi

  • Tidak ada