PEMILU, Antara JANJI – JANJI & ILUSI ?

Pemilu legislatip sudah diambang waktu dan hanya tinggal menghitung hari yang akan dilaksanakan di bulan mendatang (April) yang pada awal pemilu sudah ditandai dengan pemasangan baliho para caleg di sepanjang jalan diseantero nusantara, ditambah iklan yang bertubi tubi,membosankan  dan menjengkelkan oleh media tayang nasional, apalagi bagi empunya pemilik stasiun tv nasional yang ikut terlibat politik praktis dengan tanpa malu malu telah dengan sengaja dan sadar diri menggunakan media yang dimilikinya untuk ikut memenangkan dirinya dengan berbagai jalan.

Seolah tak mau belajar dari kesalahan dan pengalaman PEMILU sebelumnya, maka PEMILU tahun ini juga diawali dengan keributan mengenai uji kelolosan partai, ke-sahih-an/ validitas data dari DPT,dll.

Dan yang tak kalah mencengangkan, ternyata para CALEG nasional kita menurut berita media 90% muka lama alias kembali lagi untuk mencalonkan diri  dan hanya 10 % yang benar benar muka baru. Hal ini berarti kita akan lebih banyak memilih diantara para caleg yang sebelumnya telah gagal ketika menjadi anggota DPR karena kinerjanya yang rendah, suka membolos, suka jalan jalan ke luar negeri atas nama studi banding, suka sensasi dan yang paling parah ternyata sebagian anggota DPR aktip sangat doyan korupsi dengan bukti nyata mereka para oknum anggota DPR telah tertangkap oleh KPK dan tengah menjalani hukuman di rutan KPK. Lalu, dengan memilih caleg yang 90 % muka lama, perubahan apa yang bisa kita harapkan dari mereka?????

Kita sebagai rakyat pemilih sebenarnya juga perlu mempertanyakan sanksi apa yang dapat dilakukan oleh rakyat apabila anggota DPR terpilih, kemudian ternyata mengingkari amanah rakyat, melakukan tindakan tak terpuji, asusila dll? Apakah rakyat dapat melakukan mosi tak percaya atau menurunkan para anggota DPR yang sudah tak terhormat dan penuh cela?

Sistem perpolitikan kita melalui sistem kepartaian sehingga wajar jika caleg yang diajukan tidak mampu memenuhi aspirasi dan harapan rakyat karena menurut kabar yang beredar ternyata sistem perekrutan caleg yang dilakukan partai sebagian besar tak transparan, beraroma setor modal,  nepotisme, tanpa kriteria yang jelas seperti profesionalisme, kemampuan intelektualitas yang tinggi, integritas , rekam jejak dalam berkarya untuk rakyat dll.Kewenangan partai yang begitu besar untuk menempatkan kadernya di DPR dan tidak adanya  sistem yang memungkinkan rakyat melakukan “CANCEL” untuk para anggota DPR yang suka bolos, selingkuh, menelantarkan istri dan anaknya , asal omong, suka sensasi dll telah membiarkan anggota DPR berlaku seenaknya meski telah ada kritik bahkan caci maki dari rakyat yang memilihnya. (lebih…)

Iklan

Maret 12, 2014 at 6:10 am Tinggalkan komentar

Menjadikan petani kakao Flores sebagai pembisnis unggul sekaligus pemain dalam pasar kakao modern yang inklusip (Inclusive Modern Market/IMM).

Gonjang ganjing harga komoditi perkebunan telah memukul telak para petani pengusaha komoditi perkebunan, dimana harga dapat naik drastis namun kemudian dengan cepat juga dapat turun drastis yang berimbas pada kebingungan petani dalam menentukan pilihan komoditas yang akan terus digelutinya.

Petani yang cerdas dan mampu membaca perubahan harga komoditi yang begitu cepat mulai banyak mengembangkan usaha komoditi perkebunannya secara campuran atau bahasa kerennya melakukan diversifikasi dalam pilihan komoditi perkebunan dengan jalan mengintegrasikan bersama sama dengan  komoditi perkebunan lainnya .

Salah satu komoditi perkebunan yang saat ini sedang naik daun adalah komoditi kakao dimana permintaan dari pabrik olahan kakao semakin meningkat seiring dengan semakin banyaknya pengusaha luar negeri yang menanamkan modalnya untuk pembangunan pabrik olahan biji kakao, terutama di Makasar Sulawesi Selatan karena adanya pembebasan pajak bagi biji kakao yang diolah di dalam negeri.

Penguatan HULU untuk peningkatan produksi dan kualitas kakao

Namun sayangnya tidak semua daerah yang cocok untuk budidaya di Indonesia seperti di Pulau Flores NTT sebagai penghasil kakao sudah mampu berproduksi secara berkelanjutan dengan tingkat produktivitas maupun kualitas yang tinggi.

Beberapa penyebab rendahnya produktivitas dan produksi kakao di tingkat petani antara lain;

§        Umur tanaman kakao yang sudah tua, kurang terawat dan terserang hama penyakit dalam areal kakao yang luas membuat produksi menurun drastis dan seringkali membuat petani frustasi dan akhirnya membiarkan saja lahan kakao yang dimilikinya atau akan mengganti dengan tanaman komoditi lain seperti kelapa sawit, cengkeh dst.

§           Menurunnya tingkat kesuburan lahan karena terjadinya erosi terutama di lahan lahan miring yang  belum dilakukan upaya konservasi tanah dan air oleh petani

§            Terbatasnya jumlah petani kader di tingkat desa yang memiliki ketrampilan teknis dan mampu menjadi fasilitator untuk melakukan penularan dari petani ke petani (farmer to farmer extension).

§          Pelatihan mengenai teknis budidaya seperti P3S (Pemangkasan, Pemupukan, Panen Teratur, dan Sanitasi) melalui Sekolah Lapang (Farmer Field School/FFS) sering tidak ditindaklanjuti di kebun petani masing masing, sehingga perlu ada kebun belajar bersama untuk tingkat hamparan dimana petani dapat saling berbagi ilmu dan pengalaman di kebun belajar dan menjadikan sebagai gerakan bersama yang masif dalam menerapkan prinsip budidaya kakao yang baik.

§            Belum semua petani kakao mau menerapkan paktek pertanian yang baik atau GAP (Good Agriculture Practices) seperti P3S dan pengendalian hama kakao secara terpadu. Dalam kenyataannya masih ada petani kakao yang tidak mau melakukan pemangkasan dan tetap membiarkan tanaman kakao tumbuh tinggi sehingga menyerupai hutan kakao, padahal sebenarnya petani diharapkan mau melakukan pemangkasan baik pemangkasan bentuk, pangkas produksi maupun pemangkasan pemeliharaan untuk merangsang terjadinya pembungaan, mempermudah pemanenan, mengurangi tingkat kelembaban dan memudahkan aliran udara sehingga diharapkan mampu menekan serangan hama dan penyakit pada areal tanaman kakao.

§             Selain itu, terkait dengan kebiasaan memupuk, masih banyak petani yang enggan menyediakan dan menyisihkan sebagian dana hasil pendapatan dari penjualan biji kakao untuk membeli pupuk buatan atau membuat pupuk organik sendiri dari limbah kulit kakao dicampur dengan bahan organik lainnya untuk melakukan pemupukan di kebun kakao dan sering mereka hanya mengandalkan pada kemurahan alam dari kesuburan lahannya yang tak pernah tersentuh pupuk.

§           Dalam hal pemanenan, masih banyak petani yang melakukan panen tak teratur sehingga sebaiknya petani mau melakukan pemanenan secara teratur sekaligus mengambil buah yang terserang hama dan penyakit sehingga dapat memutus siklus atau mengurangi serangan hama dan penyakit.

§                Sanitasi juga menjadi penting dalam pemeliharaan kebun kakao, karena juga dapat menekan serangan hama penyakit, namun dalam pelaksanaan penerapan P3S sebaiknya menggunakan pendekatan hamparan yang sama sehingga lebih efisien dan efektip.

§           Terbatasnya penyebaran secara masif dengan entris dari klon kakao unggul dengan produktivitas yang tinggi serta tahan terhadap hama dan penyakit tertentu dan sudah teruji dalam beradaptasi dengan lingkungan setempat di kalangan petani melalui sambung samping maupun sambung pucuk, bahkan juga pemindahan bantalan buah klon kakao unggul. Upaya perbaikan genetik melalui sambung (pucuk dan samping) mampu secara cepat meningkatkan produksi yang pada gilirannya mampu memotivasi petani untuk lebih serius dan fokus pada penerapan budidaya kakao yang baik.Untuk wilayah tertentu, penggunaan klon unggul hasil sambung samping maupun sambung pucuk masih sebatas pengenalan dan belum menyebar secara luas dan masif. (lebih…)

Maret 11, 2014 at 10:45 am Tinggalkan komentar

Dicari, PRESIDEN Republik Indonesia yang merakyat, nasionalis dan visioner

Pelaksanaan PEMILU yang dilanjutkan dengan pemilihan PRESIDEN sudah semakin mendekat di tahun politik yang sangat menentukan arah bangsa dan negeri kita tercinta Indonesia. Hiruk pikuk dan gonjang ganjing politik telah mewarnai kehidupan keseharian kita, karena momen penting Pemilu dan Pemilihan Presiden diharapkan mampu membawa perubahan besar bagi rakyat jelata, apalagi pemberitaan media massa yang gencar memberitakan mengenai tertangkapnya para koruptor oleh KPK dari berbagai kalangan, mulai dari kalangan legiislatip (DPR/DPRD), eksekutip (para bupati dan gubernur serta bawahannya), juga dikalangan yudikatip(tertangkap tangannya beberapa hakim dan mantan Ketua MK Akil Mochtar) telah membuat rakyat semakin marah, geram dan muak dengan para pemimpin nasional yang menjadikan panggung politik nasional penuh dengan sandiwara dan pencitraan.

Saatnya rakyat menunjukkan keberdaulatannya sebagai pemilik republik ini dengan memperlihatkan sikap yang cerdas untuk tidak lagi salah dalam memilih pemimpin terutama pimpinan nasional yakni Presiden.

Pemimpin yang sederhana & melayani

Di era demokrasi yang semakin transparan karena semakin berfungsinya kontrol oleh berbagai komponen bangsa terutama oleh kalangan pers, maka tipikal pemimpin yang selalu jaga image (jaim), dikawal ketat oleh banyak ajudan, dibawakan tasnya, dibukakan pintu mobilnya, bersikap angkuh/arogan dll sudah mulai ditinggalkan dan tidak lagi disukai oleh rakyat. (lebih…)

Maret 8, 2014 at 11:22 am Tinggalkan komentar

Gonjang ganjing iklim politik di tahun politik negeri ini, masihkah derita dan jeritan rakyat bawah didengarkan, wahai para politisi dan pejabat ?

Situasi iklim beberapa tahun terakhir sedang mengalami perubahan yang konon katanya karena pemanasan global, terbukti bulan yang seharusnya masuk ke musim kemarau ternyata masih diguyur hujan, di beberapa daerah yang dulunya terkenal sebagai daerah berwaha sejuk namun sekarang menjadi panas dan akibatnya sangat jelas selain memberi keuntungan bagi sebagian pihak, namun lebih banyak pihak yang merasakan dampak negatipnya. Tengok saja banjir yang terus terjadi di berbagai daerah di Indonesia seperti di Menado yang telah menelan korban jiwa dan terutama di Jakarta yang telah menjadi ritual berkelanjutan, belum lagi  badai yang disertai hembusan angin kencang yang menerjang apa saja yang ada di depannya di berbagai kota dan juga telah menelan korban jiwa, para petani yang mengalami gagal panen karena perubahan musim yang ekstrem maupun karena terkena terjangan banjir dan akhirnya kehabisan modal untuk usaha pertanian berikutnya karena bencana dan harus terus terjebak hutang untuk kembali memulai usaha taninya.

Iklim politik di tahun 2014 yang dikatakan sebagai tahun politik juga sedang berubah dan tak mau kalah dengan perubahan iklim sesungguhnya, terlihat ketika semakin banyak para pengusaha dan  pemilik modal kuat mulai bermain langsung dikancah politik entah untuk tujuan apa selain untuk menyelamatkan dan membesarkan kerajaan bisnisnya serta berupaya mempengaruhi kebijakan yang pastinya akan menguntungkan usaha/bisnnisnya.

Sangatlah berbahaya ketika uang dan kekuasaan bergandengan mesra  tanpa ada kontrol dari rakyat sebagai pemegang kedaulatan Negara.  Sangat mengerikan dan miris ketika kita tahu permainan busuk para mafia dalam kasus korupsi mulai dari permainan suap di Ditjen Pajak yang melibatkan Gayus dkk, Kasus Century yang tidak jelas juntrungnya , Kasus Hambalang yang sekarang sedang naik daun dan mendapat rating tinggi di kalangan media elektronik dengan dijebloskannya Anas ke penjara KPK, dan masih banyak lagi kasus lainnya seperti kasus impor sapi yang melibatkan oknum petinggi partai PKS,kasus simulator yang melibatkan sorang jenderal polisi aktip, Kasus SKK Migas, Kasus tangkap tangan KPK yang melibatkan Akil Mochtar sebagai Ketua MK dan sederet kasus korupsi lainnya.

Akhir ceritera, rakyat saat ini menjadi kebingungan dan benci dengan segala kebohongan para pengusaha hitam, politisi busuk  dan para penguasa/pejabat publik yang berkolusi dimana uang menjadi kekuatan dalam permainan politik baik dalam proses seleksi di PILKADA maupun dalam proses seleksi jabatan yang melibatkan DPR RI.

Semakin rapuhnya rasa nasionalisme dikalangan pemimpin atau tepatnya pimpinan formal bangsa dan para politisi hitam  yang ditambah dengan sikap hidupnya yang serakah, tamak, rakus dengan gaya hidup hedonis, konsumtip dan memuja kenikmatan sesaat yang sesat seperti narkoba, seks instan, gaya hidup super mewah dll telah menjerumuskan bangsa yang kita cintai kedalam kubangan hutang yang semakin dalam dan melebar, terbukti menurut beberapa sumber utang luar negeri kita telah menembus 2.350 trilyun rupiah dan selama periode kepemimpinan ke-dua SBY telah menambah pundi pundi utang negara sebesar 250 trilyun, angka fantastis dan hebatnya tak ada komplain dari pihak legislatip (DPR).

Politik di negeri ini telah menjadi sangat hiruk pikuk dan bising dengan iklan politik yang gencar dari partai maupun beberapa kandidat presiden di televisi (terutama yang kepunyaan mereka sendiri), konflik yang dilakonkan  oleh para politisi  yang mengemuka di berbagai media, belum lagi bertebaran bendera partai dan baliho para caleg yang menurut penglihatan saya secara sederhana sangat tidak efektip untuk menaikkan dalam mendulang maupun mendongkrak suara. Rakyat yang sebagian besar masih buta politik tidak dicerdaskan namun justru dijadikan mainan para politisi dengan memberi kesempatan kandidat presiden dari kalangan yang justru tidak layak untuk diajukan sebagai capres karena kapasitas, wawasan kebangsaannya yang masih diragukan, cenderung sektarian, hanya bermodal ketenaran, dan ada juga yang masih tersangkut berbagai kasus yang merugikan masyarakat yang sampai saat ini masih belum ada penyelesaiannya dan sayangnya para kandidat presiden yang mencalonkan atau dicalonkan bukan didasarkan pada rekam jejak yang telah diperbuat dan dibuktikan yang menunjukkan kapasitas, integritas pribadinya dan kapabilitasnya.

Politik kita saat ini jauh dari santun, tidak terlihat cerdas, cenderung kasar dan  menghalakan segala cara untuk meraih kemenangan dan kekuasaan, termasuk dengan mem-bully dan melakukan kampanye hitam terhadap seorang yang potensial dan didukung sebagian rakyat  yang  telah diakui rekam jejaknya terutama dari luar negeri seperti JOKOWI.

Saatnya gonjang ganjing politik harus diredam dan pengembangan demokrasi yang dijalankan saat ini harus benar benar mendasarkan pada kepentingan politik yang sehat untuk mensejahterakan rakyat yang memilihnya.

Politik harus kembali di-sucikan, dijadikan alat untuk memperoleh kekuasaan demi kesejahteraan rakyat, bukan sekedar permainan patgulipat antara penguasa dan pengusaha untuk mengkadali rakyat dan semakin menambah pundi pundi kekayaan para petualang dan mafia politisi. Politisi harus lebih peka dan peduli jeritan hati rakyat yang memilihnya, bukan hanya menjadikan rakyat sebagai lumbung suara dan setelah terpilih kemudian tinggal ongkang ongkang kaki menunggu transfer sebesar lebih dari 50 juta untuk para anggota DPR RI setiap bulannya, sementara TKI/TKW yang mengadu nasib semakin bertambah karena terbatasnya lapangan kerja dengan upah yang layak di negeri sendiri dan tidak sedikit yang menjadi korban kekerasan baik fisik maupun seksual. Saatnya menjadikan warga Indonesia tidak lagi menjadi budak di negeri orang apalagi di negeri sendiri.

Januari 15, 2014 at 11:10 pm Tinggalkan komentar

Selamat memasuki Tahun Baru 2014

Hanya beberapa pintaku kepada NYA;

Berikan kami Presiden Baru yang benar benar BARU
Yang mampu mewujudkan PANCASILA dlm keseharian
Mewujudkan kerinduan akan pekerjaan yang mudah didapat
Dan jalan jalan desa yang terus diaspal dan dibangun jembatan

Bangunlah jiwa NASIONALISME kami yang sungguh sungguh
Menjadikan bumi dan seisinya untuk kesejahteraan rakyat sendiri
Bukan untuk dijual apalagi untuk dijarah oleh para pemodal asing

Berikan kami kehidupan damai yang sejati bukan seolah olah
Pluralisme yang mengedepankan tepo seliro dan tenggang rasa
Tidak lagi saling tawuran hanya karena adanya perbedaan SARA

Berikan pada bangsa kami akan kesadaran menjaga bumi & seisinya

Membuang sampah di tempatnya serta mengelolanya dengan baik

Tidak lagi membuang sampah di sungai, di laut dan juga di selokan

Dan memohon maaf atas partisipasi yang masih kurang dlm membangun negeri

Desember 31, 2013 at 4:43 pm Tinggalkan komentar

Adat tetap lestari, namun tidak perlu pesta pora berlebihan sehingga tidak membebani.

Salah satu hasil pengamatan secara sederhana dan sepintas selama menfasilitasi pengembangan dan pemberdayaan masyarakat selama puluhan tahun terutama di pedesaan Indonesia Timur adalah mengenai kebiasaan yang ada dikalangan masyarakat yang dianggap biasa namun sebenarnya perlu dikoreksi yakni kebiasaan pesta pora atas nama adat/budaya, sementara dalam kenyataan di  masyarakat pedesaan masih banyak ditemui keluarga miskin yang tak memperoleh akses pada air bersih, tak mampu menyekolahkan anaknya, masih hidup dalam jeratan hutang berkelanjutan dengan bunga tinggi oleh rentenir.

Kemiskinan yang melingkar lingkar seolah tak berujung, salah satu penyebabnya adalah kebiasaan berpesta pora melebihi kekuatannya karena terkait masalah harga diri yang berlebihan dimana keluarga yang satu tidak mau kalah dengan keluarga lainnya ketika menyelenggrakan pesta. Perlombaan pesta yang tak ada ujung dan pemenangnya telah secara masal dan sistemik mampu menguras asset atau kekayaan masyarakat desa sehingga wajar jika meski begitu banyak dan gencar bantuan dari pihak luar untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat desa namun seolah bantuan tersebut menguap tak berbekas.

Bahkan ketika menyelenggarakan pesta, mereka masyarakat desa tidak segan untuk menjual asetnya dengan harga murah atau bahkan berhutang dengan bunga yang tinggi.

Perlu ada keberanian dari para tokoh adat atau budaya dan tokoh masyarakat lainnya bersama pemerintah daerah  untuk memikirkan dan melakukan reorientasi agar perayaan pesta atas nama adat tidak perlu membebani karena adat sesungguhnya adalah asset yang dimiliki masyarakat yang harus tetap dijaga agar  mampu menjaga soliditas, membangun solidaritas dan menjaga serta meningkatkan peradaban menjadi lebih berharkat dan bermartabat.

Masyarakat kita memang banyak yang telah bebas dari buta aksara/buta huruf, namun masih banyak yang mengalami buta finansial karena tidak pernah belajar untuk meningkatkan kecerdasan finasial/keuangan keluarganya. Meski saat di bangku sekolah kita selalu diajarkan peribahasa “Hemat pangkal kaya”, namun dalam kenyataan perilaku hemat belum menjadi perilaku keseharian. Era Orde Baru, pemerintah telah mencanangkan Gerakan Hidup Hemat untuk mengencangkan ikat pinggang, namun ternyata tidak berkelanjutan. Contoh lainnya yang paling nyata adalah perilaku korup yang ditunjukkan para koruptor yang rakus akan harta telah menjauhkan sikap hidup hemat karena suka melakukan mark-up, selain itu mereka para koruptor juga mengambil dana dari yang bukan haknya sehingga meski mereka menjadi kaya namun diperoleh dengan cara yang salah dan tak bermartabat. Menjadi kaya memang tidak salah, namun harus dimulai dengan sikap hemat, tidak berpesta pora yang melebihi kekuatan kita, membangun asset/kekayaan melalui hidup hemat menyisihkan sebagian pendapatan kita untuk menambah aset sebelum digunakan untuk memenuhi kebutukan keluarga , berbisnis, dan berinvestasi.

Kebiasaan menabung sejak dari kecil perlu digalakkan kembali, jiwa bisnis harus ditanamkan sejak usia dini sehingga semakin banyak yang menjadi pembisnis yang memeperkuat perekonomian nasional kita dan mampu menciptakan lapangan kerja bagi banyak orang. Kebiasaan berinvestasi dalam bentuk menanam pohon atau tanaman kayu tahunan perlu terus dilakukan karena selain meningkatkan asset kita, juga mampu mengurangi pemanasan global dan perubahan iklim serta menjaga kelestarian lingkungan kita, demikian pula investasi melalui pembelian saham, reksa dana ataupun unit link di asuransi  menjadikan masyarakat kita sebagai investor yang mana dana yang terkumpul dapat menjadi modal usaha, asal jangan terjebak dalam “investasi bodong” yang penuh tipuan yang menjanjikan return yang tinggi namun tidak masuk akal. Kecerdasan finansial harus diajarkan di sekolah, jiwa bisnis harus terus dipupuk sehingga tidak banyak lagi sarjana yang tertarik menjadi PNS sehingga beban keuangan negara juga semakin berkurang dan perekonomian nasional menjadi lebih meningkat.

Kita juga bisa belajar hidup hemat dari komunitas agama tertentu dimana ketika mengalami musibah kematian, tidak lagi perlu menyiapkan makan, cukup hanya dengan air mineral gelas dan permen, sehingga keluarga yang berduka tidak perlu menyiapkan dana dalam jumlah besar, tidak ada lagi sembahyang yang harus menyiapkan makan dst. Demikian pula kebiasaan kenduri atau sembahyangan tidak lagi perlu membawa pulang makanan yang telah diolah dan siap saji, namun cukup membawa pulang dalam bentuk sembako sehingga tidak mubazir dan dapat dimasak kapan saja sesuai kebutuhan.

Saatnya bangsa kita berani keluar dari kebiasaan pesta pora yang berlebihan atas nama adat/budaya dan saatnya berani melakukan reorientasi agar berperilaku hidup hemat sehingga bangsa kita tidak terus terjerumus dalam hutang luar negeri berkelanjutan yang semakin meningkat dari tahun ke tahun. Kita harus berani belajar dari bangsa lain terutama bangsa Jepang dan Korea Selatan dimana meski telah menjadi bangsa yang kaya dan menguasai teknologi tinggi namun kebiasaan hidup hemat terus menjadi kebiasaan sehingga mereka menjadi negara yang mampu memberi pinjaman ke negara lain seperti negeri kita yang masih terus terperangkap dan terjebak untuk membayar hutang beserta bunganya. Salam hidup hemat untuk mandiri/berdikari.

Oktober 28, 2013 at 4:26 am Tinggalkan komentar

INDONESIA,benarkah bangsa yang sebenarnya berpotensi menjadi negara maju ?

Setelah kita melewati peringatan kemerdekaan Indonesia yang ke 68 tahun, pertanyaan yang muncul berapa lama lagi satu per satu tanda tanda menuju negara yang maju akan terwujud di tanah air tercinta INDONESIA ?

Kita sebagai sebuah bangsa sebenarnya mempunyai modal yang lebih dari cukup, baik berupa modal sumber daya alam, modal sosial, modal ekonomi, modal SDM dst, namun mengapa kita saat ini justru seperti masuk dalam lingkaran setan dan turbulensi yang panjang dan sangat menyesakkan dada ?

Belum selesai kita merayakan Lebaran, sudah dikejutkan lagi dengan tetangkap tangannya Ketua SKK Migas Rudi Rubiandini yang saat awal menjabat berjanji membersihkan SKK Migas dari praktek KKN, namun sayangnya yang terjadi justru kebalikannya. Peradaban kebangsaan kita saat ini sungguh membuat para pendiri bangsa dan para pahlawan akan sangat kecewa terutama dengan kedaulatan politik, kemandirian ekonomi dan dalam hal kepribadian budaya kita.

Kedaulatan politik negeri kita sudah semakin memprihatinkan terbukti dengan penguasaan pengelolaan migas dan tambang emas telah dikuasai para pemodal asing, terutama Freeport untuk pengelolaan tambang emas yang terus menerus menguasai dan semakin mencengkeram bumi Cendrawasih, Newmont untuk Sumbawa dan Sulawesi dimana dalam kontrak karya diduga justru lebih merugikan kita sebagai pemilik tambang dan kita tak berani menuntut perubahan kontrak yang lebih menguntungkan Indonesia. Peran Indonesia di kawasan ASEAN juga semakin pudar, apalagi dalam berperan di gerakan Non Blok. Lahan pertanian potensial yang sebelumnya dimiliki secara komunal oleh komunitas adat, perlahan namun pasti telah beralih ke pemodal kuat baik dari dalam maupun luar negeri dan penguasaan sebesar besarnya kekayaan alam bumi Indonesia untuk kesejahteraan rakyat perlahan lahan bergeser menjadi dikuasai oleh para mafia.

Mahalnya biaya untuk PEMILU dan juga PILKADA telah menyedot sumber daya kita karena ternyata masih banyak pihak yang menggunakan strategi politik uang dalam segala bentuknya untuk memperoleh kemenangan sehingga tidak heran banyak pimpinan daerah yang kemudian terpaksa berurusan dengan penegak hukum dan masuk bui karena kasus korupsi.

Kemandirian ekonomi juga dipertanyakan, terutama dengan semakin bertambahnya hutang luar negeri kita yang telah mencapai lebih dari 2.000 trilyun, sementara APBN kita tersedot untuk membayar cicilan dan bunga luar negeri sehingga tinggal tersisa sedikit untuk pembangunan infrastuktur, kesehatan, pendidikan, perumahan dll. Denyut nadi perekonomian kita lebih dikuasai pemodal asing yang hampir menguasai dalam pemenuhan kebutuhan sehari hari mulai dari ketersediaan air kemasan, pasta gigi, sabun, layanan telekomunikasi, kendaraan bermotor dan mobil, dan bahkan kebutuhan akan bawang merah-putih, daging sapi, kedelai, garam, dll. Bank yang beroperasi di negara kita juga mulai dipenuhi pemodal asing, demikian pula keberadaan hypermarket, dan berbagai wara laba dari luar juga tumbuh bak cendawan di musim hujan terutama di kota besar yang akan mempengaruhi gaya hidup masyarakat kita, bahkan pekerja seks dari luar juga mulai beterbaran di kota  kota besar. Gerakan penumbuhan koperasi yang diidamkan Bung Hatta akan berjalan cepat dan menjadi soko guru perekonomian nasional ternyata belum berkembang sebagaimana diharapkan dan bahan menjadi anak tiri di negeri sendiri. Koperasi yang digadang akan mampu memacu tidak hanya pertumbuhan ekonomi tetapi terlebih pemerataan hasil pembangunan ternyata jalannya masih terseok-seok karena kebijakan ekonomi kita yang setengah hati mendukung ekonomi kerakyatan dan lebih memberi ruang pada para kapitalis dan mekanisme pasar bebas untuk menguasai ekonomi negeri ini. Mafia ekonomi telah merasuk ke dalam birokrasi dan legislatip dan permainan para kartel telah menyebabkan harga melambung tinggi tak terkendali seperti yang baru baru ini terjadi, mulai dari harga daging sapi sampai bawang merah-putih yang membuat ibu rumah tangga menjerit, dan kalau kita hitung secara nasional, berapa banyak rupiah yang tersedot oleh permainan para kartel yang tega bermain diatas penderitaan rakyat Indonesia.

Dalam mewujudkan kepribadian bangsa yang santun, penuh solidaritas melalui gotong royong, menghargai pluralitas yang terkandung dalam nilai nilai luhur Pancasila saat ini seolah dilupakan begitu saja dan yang banyak terjadi saat ini adalah intoleransi SARA, kekerasan dalam segala bentuknya terutama tawuran maupun perilaku menyimpang ormas yang suka sekali melakukan sweeping, dan yang sebenarnya paling merusak peradaban namun dianggap biasa adalah korupsi yang merajalela dan melibatkan semua komponen bangsa mulai dari kelas menteri sampai rakyat biasa. Budaya malu untuk melakukan KKN, tawuran, pungli, dsb telah mulai secara perlahan menghilang dan digantikan dengan sifat tamak/rakus luar biasa, dan yang lebih memprihatinkan budaya nyontek dan membeli jawaban soal ujian UN seolah sudah wajar saja, padahal kita tahu peletakan dasar nilai dimulai dari bangku pendidikan. Pendidikan berkarakter yang membangun integritas anak didik telah dikalahkan dengan hanya mementingkan pengembangan intelektual semata sehingga hanya melahirkan orang pintar namun tak berkepribadian baik. Pendidikan yang membangun karakter dianggap ketinggalan jaman, padahal kita tahu manusia hidup tidak hanya untuk memenuhi kebutuhan jasmani, tetapi juga secara sosial dan rohani. Peningkatan angka pertumbuhan ekonomi kita tak ada artinya jika yang terbangun justru masyarakat yang cuek, masa bodoh  satu dengan lainnya, tak peduli dengan solidaritas pada sesama yang membutuhkan pertolongan, menjadi individualistis, materialistis, hedonis, suka memalak dalam segala bentuknya, munafik dan yang lebih menyedihkan tidak pernah merasa bersalah meski telah melakukan kesalahan di bidang hukum, dan telebih mengkianati budaya kita yang menjunjung tinggi kejujuran, kebersamaan, kegotong royongan dan satunya kata dan perbuatan.

Penyimpangan dan pembelokan dalam pembangunan bangsa kita sebenarnya sudah sangat dirasakan sejak jaman ORBA yang mana perilaku korup di semua lini kehidupan semakin menggila, meski kita juga mengakui keberhasilan dalam pembangunan fisik, namun periode tersebut selama 32 tahun telah merusak semua sendi kehidupan berbangsa dan bernegara, ditambah lagi kepemimpinan nasional yang sangat tidak tegas saat ini yang hanya penuh retorika sungguh  menambah runyam persoalan bangsa.

Kita sudah sangat mendesak untuk harus kembali ke-4 pilar kebangsaan kita, membangun peradaban yang lebih baik dengan lebih mengedepankan kejujuran dan menghilangkan kemunafikan dalam segala kedoknya, menumbuhkan kembali pola hidup sederhana dan hidup hemat, menghargai para pekerja keras dan smart, penegakan hukum yang menjunjung tinggi rasa keadilan, memberi ruang yang lebih untuk pengembangan ekonomi rakyat seperti bangkitnya kembali gerakan koperasi di negeri ini, memberi ruang usaha untuk para PKL dan sektor informal seperti yang telah dilakukan Jokowi-Ahok, membangun kembali tempat tempat pusat pengembangan budaya di setiap sudut kota, menyediakan rumah yang murah dan terjangkau untuk para buruh, pekerja informal dan rakyat kecil, memberi layanan  gratis untuk kesehatan, pendidikan, memeratakan pembangunan ke pelosok negeri sehingga pertumbuhan ekonomi dapat lebih merata, pemerataan penduduk melalui penciptaan lahan pertanian dan lapangan kerja di wilayah timur Indonesia melalui kegiatan transmigrasi yang terpadu dengan tersedianya akses ke pasar untuk pemasaran hasil hasil pertanian dan lainnya, pembangunan infrastruktur sampai ke pelosok desa, mengendalikan pertumbuhan penduduk dengan kembali mengkampanyekan KB, dan yang tak kalah penting para pemimpin negeri ini harus berani “menghabisi” para mafia baik di bidang hukum,ekonomi,politik dsb demi kepentingan umum/publik yang lebih besar yang memberi mandat pada pemimpin negeri ini untuk mensejahterakan bangsanya. Saatnya seluruh kebijakan yang tidak memberi kesempatan pada orang yang baik dan pintar untuk dapat terpilih menjadi pemimpin harus dirubah terutama sistem perekrutan caleg dan para bupati serta gubernur sehingga diperoleh pimpinan daerah dan anggota DPR/D yang berilmu, beriman dan berintegritas, bukan hanya sekumpulan orang oportunis apalagi mafia yang bertujuan memuluskan jalan hanya untuk kepentingan kelompoknya. Jika kita dipimpin oleh para pemimpin yang paham akan visi kebangsaan sesuai dengan harapan para pendiri bangsa, maka sangatlah mungkin Indonesia bukan hanya menjadi macan Asia tetapi macan dunia. Semoga

Agustus 17, 2013 at 11:05 pm Tinggalkan komentar

Pos-pos Lebih Lama Pos-pos Lebih Baru


Kategori

September 2017
S S R K J S M
« Mei    
 123
45678910
11121314151617
18192021222324
252627282930  

Tamu Adikarsa

  • 53,619 pengunjung

Klik tertinggi

  • Tidak ada